SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

April 12, 2016

MEMAHAMI KONSEP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT

Oleh :
Deny Rochman

  1. PENDAHULUAN
Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam pikiran adalah berbagai macam pendapat. Ada yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik karena suka mengkomunikasikan dan menafsirkan bahasa simbol-simbol. Ada juga yang menilai manusia sebagai homo feber, dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja.
Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. 
 Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Manusia dalam bermain memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. 
 Memahami makhluk Tuhan yang bernam manusia sungguh sangat sukar. Berbagai macam pandangan para tokoh mengenai manusia. Ahli mantic (logika) menyatakan bahwa manusia adalah “Hayawan Natiq” (manusia adalah hewan berpikir), seorang ahli filsafat yaitu Ibnu Khaldun menyatakan bahwa manusia itu madaniyyun bi al-thaba atau manusia adalah makhluk yang bergantung kepada tabiatnya. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa manusia adalah “zoon political” atau “political animal (manusia adalah hewan yang berpolitik).
Mengenai sifat makhluk yang bernama manusia itu sendiri yakni bahwa makhluk itu memiliki potensi lupa atau memiliki kemampuan bergerak yang melahirkan dinamisme, atau makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, humanisme dan kebahagiaan pada pihak-pihak lain. Dan juga manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, berbicara, berjalan, menangis, merasa, bersikap dan bertindak serta bergerak.
Perbedaan pendapat ini lebih dipengaruhi oleh paradigma pemikiran yang berbeda antara satu ilmuwan dengan yang lainnya. Latar belakang keilmuan, pengalaman, budaya dan situasi sosial ikut membentuk cara pandang seorang ilmuwan dalam memahami hakekat manusia.  



B.     Manusia dalam Konsep Barat
Beberapa filsuf memberikan pandangannya dalam memahami makhluk yang bernama manusia. Beberapa filsuf antara lain :
1.    Aristoteles
Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk yang berakal budi. Dengan akal budi itulah ia dapat berpikir dan mengambil tindakan. Manusia adalah makhluk yang rasional. Puncak perbuatan kesusilaan manusia terletak dalam “pikiran murni”. Kebahagiaan mnausia yang tertinggi adalah “berpikir murni”. Tetapi, puncak itu hanya dapat dicapai oleh para Dewa. Manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya. Manusia itu bukan serigala, melainkan ia adalah makluk yang berpikir ( animal rationale). Artinya, dengan pikirannya ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam tindakannya. Dengan pikirannya pula, ia bisa mengatasi naluri kebinatangannya dan bertindak lebih menusiawi. Berbekalkan akal budinya aksinya bukan hanya merupakan actus hominis dalam arti gerakan-gerakan yang hanya dikuasai oleh hukum-hukum biologis, melainkan merupakan actus humanus dalam arti tindakannya sarat dengan pertimbangan-pertimbangan nilai.
2. Plato
Dalam pemikirann Plato, seorang pribadi merupakan bagian dari dunia fisik dalam pengertian bahwa ia mempunyai tubuh yang melaluinya dia menerima impresi-impresi indrawi. Tetapi, pada waktu yang sama ia mempunyai budi rohani yang mampu mengetahui kebenaran-kebenaran abadi yang mengatasi dunia. Ia juga mempunyai daya mengarahkan, jiwa, yang digambarkan oleh Plato sebagai pengendara kereta, yang membimbing dan dibimbing oleh dua kuda, budi dan badan.
Budi ingin menjelajahi kawasan surgawi dari ide-ide memahami mereka; badan ingin terlibat dalam masalah-masalah duniawi yang berkaitanm dengan indera. Jiwa manusia terperangkap antara dua kekuatan yang berlainan ini. Jiwa mencoba mengarahkan, tetapi terperangkap dalam penjara badan. Maka, menurut Plato, manusia tidak mempunyai kebebasan nyata bila hidup mereka dipusatkan pada tuntutan-tuntutan fisik. Namun, jiwa manusia dapat membebaskan diri dari belenggu ini dan mengarahkan hidup, baik di lingkungan fisik maupun kegiatan-kegiatan intelektual. Tetapi, ini terjadi hanya setelah eksistensi badani sehingga jiwa naik ke dunia abadi, Ide-Ide. Bagi Plato, jiwa dan badan merupakan dua hal berbeda. Jiwa itu immortal, abadi; dia mendiamni badan yang sementara.
3. Jean- Paul Sartre
Eksistensi mendahului esensi adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan. Hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia).
Inilah prinsip pertama dari eksistensialisme. Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya?.
Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun, bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi, bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis. Bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme, bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan, bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa demikian?
Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya.
Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan, yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggung-jawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya yaitu tentang humanisme.
Dalam pandangan Sartre, yang membedakan humanismenya dengan humanisme yang sudah digagas oleh banyak filsuf yang mendahuluinya terletak pada radikalitasnya. Nilai humanisme pada era sebelumnya oleh Sartre dianggap belum radikal karena masih mengandaikan adanya nilai-nilai yang ditentukan dari luar diri manusia itu sendiri, entah itu Tuhan, Realitas Tertinggi, ataupun norma-norma buatan manusia yang dilanggengkan. Individu tidak mendapatkan tempat untuk menciptakan sendiri nilai-nilai yang ia percayai dan yang ia libati (engagement). Baginya, tidak akan ada satu perubahan apapun jika kita masih menganggap bahwa Tuhan itu ada. Kita seharusnya menemukan kembali norma-norma seperti kejujuran, kemajuan, dan kemanusiaan. Untuk itu Allah harus dibuang jauh-jauh sebagai sebuah hipotesis yang sudah usang dan yang akan mati dengan sendirinya. Bagi Sartre, mengutip Dostoevsky, “Jika Allah tidak eksis, maka segala sesuatu akan diizinkan”. Inilah titik berangkat dari eksistensialisme yang diacu Sartre.
Manusia lantas tidak bisa lagi menggantungkan dirinya erat-erat pada kodrat manusia yang spesifik dan tertentu. Tidak ada determinisme. Manusia itu bebas, manusia adalah bebas. Tidak ada lagi excuse, manusia ditinggalkan sendirian. Manusia dikutuk, terhukum untuk menjadi bebas. Terkutuk, sebab ia tidak menciptakan dirinya sendiri namun sungguh-sungguh bebas. Dan, terhitung sejak ia terlempar ke dunia ini ia bertanggungjawab atas segala sesuatu yang ia lakukan. Action (tindakan), itulah kata kunci yang mau ditunjukkan Sartre kepada kita guna memberi makna pada kemanusiaan. Action dan bukan quietism. Dengan kata lain, “Man is nothing else but what he purposes, he exists only in so far as he realises himself. He is therefore nothing else but the sum of his actions, nothing else but what his life is”. Jadi, jelas di sini bahwa realisasi diri manusia lewat tindakan adalah yang sesungguhnya membuat dirinya menjadi manusia.
Namun, tindakan ini jangan dimengerti sebagai tindakan tunggal pada saat tertentu saja. Tindakan di sini dimengerti sebagai totalitas dari rangkaian tindakan-tindakan yang sudah, sedang, dan akan dilakukannya sepanjang hidupnya. “A man is no other than a series of undertakings that he is the sum, the organisation, the set of relations that constitute these undertakings”. Lewat itulah muncul apa yang kita sebut komitmen. “I ought to commit myself and then act my commitmen”. Dan, komitmen itupun perlu dipahami sebagai komitmen total dan bukan komitmen kasus-per-kasus atau tindakan tertentu. Inilah yang membedakan Humanisme Sartre dengan humanisme sebelumnya. Konsepsi humanisme Sartre tidak hanya bermain di level abstrak-spekulatif, namun lebih pada etika tindakan dan self-commitment.
Konsepsi humanisme Sartre yang kedua menyangkut martabat manusia itu sendiri, satu-satunya hal yang tidak membuat manusia menjadi sebuah objek. Dengan mengkritik materialisme yang mendasarkan segala realitas (termasuk manusia di dalamnya) pada materi, Sartre mau membangun kerajaan manusia (bukan Kerajaan Allah!) sebagai sebuah pola dari nilai-nilai yang berbeda dari dunia materi. Subyektivitas, sebagaimana sudah disinggung pada bagian satu di atas tidak bisa dipersempit artinya menjadi individual subjectivism. Sebabnya apa? Meminjam istilah yang digunakan Descartes, namun sekaligus mengoreksinya, dalam kesadaran cogito, aku berpikir, tidak hanya diri sendiri yang ditemukan namun juga orang lain. Manusia tidak bisa menjadi apapun kecuali, kalau orang lain mengakui (bukan menentukan) dirinya secara demikian. Penyingkapan jati diriku pada saat yang bersamaan berarti penyingkapan diri orang lain sebagai sebuah kebebasan yang berhadapan dengan kebebasanku. Berhadapan baik dalam artian “bagi” atau “melawan.” Dengan begitu, kesadaran akan diriku dalam dunia ini sifatnya adalah inter-subjectivity. Berkenaan dengan itu, meskipun menyangkal adanya kodrat manusia, Sartre mengakui adanya “a human universality of condition”. Human universality ini bukan sesuatu yang sudah jadi (given), namun yang harus senantiasa dibuat oleh manusia yang melakukan tindakan pemilihan lagi, dan lagi selama hidupnya.
Sartre sudah menekankan bahwa tidak ada Tuhan yang menciptakan nilai-nilai bagi manusia. Manusia sendirilah yang harus menemukan (invent dan bukan create) nilai-nilai bagi dirinya sendiri. Dan, penemuan nilai-nilai ini berarti bahwa tidak ada yang à priori dalam hidup. Hidup belumlah apa-apa jika belum dihayati. Dan, penghayatan ini, engkau sendirilah yang menetukannya. Dan nilai atau makna atas kehidupan ini tak lain tak bukan adalah sesuatu yang engkau pilih. Karenanya, menjadi jelas bahwa selalu ada kemungkinan untuk menciptakan sebuah komunitas manusia. Dengan itu, Sartre mau menegaskan bahwa yang ia maksud dengan humanisme di sini bukanlah humanisme dalam kerangka teori yang meninggikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan
sebagai nilai tertinggi (supreme value). Bagi Sartre, ini humanisme yang absurd sebab hanya anjing atau kuda yang paling mungkin berada dalam posisi untuk melontarkan penilaian umum atas apa manusia itu. Seorang eksistensialis tidak pernah menganggap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri sebab manusia masih harus ditentukan. Humanity yang absurd semacam ini akan menggiring manusia pada pengkultusan, suatu sikap tertutup-pada-dirinya-sendiri sebagaimana sudah dirintis oleh Auguste Comte (comtian humanism), dan berpuncak pada Fasisme.
Pengertian humanisme yang diikuti Sartre adalah pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Karena. manusia adalah makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, self-surpassing, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan ke-self-surpassing-annya, maka ialah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian self-surpassing). Dan, relasi antara transendensi manusia dengan subjektivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri, melainkan selalu hadir dalam semesta manusia). Itulah yang disebut Sartre dengan existential humanism. Ini disebut humanisme karena mengingatkan kita bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan (abandoned) ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu, manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia.
Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah Sartre berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindaksecara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.
4. Rene Descartes
Filsuf terkenal dari Perancis, mendefinisikan manusia sebagai ‘animal rationale,’ binatang yang dapat berpikir, atau ‘a thinking being,’ makhluk yang berpikir. Sementara itu, berpikir diartikan sebagai kegiatan refleksif yang melibatkan otak sebagai organ pengendali semua panca indera, organ yang secara auto-refleksif melakukan fungsi perencanaan, penelaahan, pengambilan keputusan, dan pengkoordinasian terhadap program-program kerja jasmani-rohani tubuh manusia. Salah satu program kerja yang paling penting adalah berpikir, melakukan penelaahan atas sesuatu topik yang biasanya muncul dari adanya rangsangan atau impulsi dari luar. Topik yang muncul tersebut bisa
jadi memerlukan penelahaan yang terkait dengan sebab-akibat, dengan kemungkinan pelaksanaannya atau terjadinya, dengan segi baik-buruknya atau untung-ruginya, dan/atau berbagai segi lain.

C.      Hakekat Manusia dalam Islam

Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur materi (jasmani/jasad) dan unsur immateri (rohani/jiwa). Secara materi, manusia hakekatnya berasal dari tanah, sedangkan secara immateri, manusia berasal dari ruh yang tidak diketahui hakekatnya. Unsur manusia yang bersifat immateri (rohani/jiwa) digambarkan oleh al-Qur’an diantaranya melalui istilah ruh dan nafs yang selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Ruh
Dalam surah al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman:
“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: Sungguh Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurkan ruh (ciptaan) Ku ke dalamnya maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Sebagaimana yang digambarkan di dalam ayat 28-29 surah al-Hijr di atas, ruh adalah unsur terakhir yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, dengan demikian dapat diambil pemahaman bahwa ruh adalah unsur yang sangat penting karena merupakan unsur terakhir yang menyempurnakan proses penciptaan manusia. Ruh juga dikatakan sebagai bagian unsur yang mulia, hal ini tersirat dari perintah Allah kepada para malaikat (termasuk pula iblis) untuk sujud kepada manusia sebagai tanda penghormatan setelah dimasukkannya unsur.
Dalam memahami sifat-sifat ruh, ada beberapa ulama dan para sarjana muslim yang mencoba memahaminya dengan b.erpijak pada disiplin ilmunya masing-masing. Al-Qayyim dan Al-Razy berpendapat bahwa ruh adalah suatu jisim (benda) yang sifatnya sangat halus dan tidak dapat diraba. Ruh merupakan jisim nurani yang tinggi dan ringan, hidup dan selalu bergerak menembus dan menjalar ke dalam setiap anggota tubuh bagaikan menjalarnya air dalam bunga mawar. Jisim tersebut berjalan dan memberi bekas-bekas seperti gerak, merasa, dan berkehendak. Jika anggota tubuh tersebut sakit dan rusak, serta tidak mampu lagi menerima bekas-bekas itu, maka ruh akan bercerai dengan tubuh dan pergi ke alam arwah.
Al-Ghazali membagi ruh dalam dua pengertian. Pertama, ruh yang bersifat jasmani yang merupakan bagian dari tubuh manusia, yaitu zat yang amat halus yang bersumber dari relung hati (jantung), yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merasakan berbagai rasa. Ruh ini dapat diibaratkan sebuah lampu yang mampu menerangi setiap sudut ruangan (organ tubuh). Ruh ini sering pula diistilahkan dengan nafs (nyawa). Kedua, ruh yang bersifat rohani yang merupakan bagian dari rohani manusia yang sifatnya halus dan gaib. Ruh ini memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya, dan memperoleh serta menguasai ilmu yang bermacam-macam. Ruh ini pula yang menyebabkan manusia berperikemanusiaan dan mempunyai akhlak yang baik sehingga dapat menjadikannya berbeda dengan binatang.
Syaltout berpendapat bahwa ruh adalah suatu kekuatan yang dapat menyebabkan adanya kehidupan pada makhluk seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruh pada diri manusia disamping dapat memberikan kehidupan juga memberikan kemampuan kepada manusia untuk merasa dan berpikir. Hakekat ruh sulit ditangkap tetapi keberadaannya dapat dirasakan.
Ruh adalah sumber kemanusiaan. Manusia merasa senang, cinta, benci, marah, bahagia, gembira, bermoral, berakhlak, mempunyai rasa malu dan beradab, semuanya adalah akibat dari adanya ruh yang ditiupkan Allah pada tubuh manusia.
Menurut Arifin, keberadaan ruh pada diri manusia dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya daging, tulang, darah, kulit, dan bulu, ruh pula yang menyebabkan tubuh manusia dapat bergerak, berketurunan, dan berkembangbiak. Di sampimg itu ruh pula yang membuat manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, berkesadaran, dan berpengertian.
2.    Nafs
Menurut Amjad, istilah ruh digunakan untuk menunjukkan unsur rohani manusia pada tingkatan yang lebih tinggi dari nafs. Ruh dipandang sebagai dimensi khas insani yang merupakan sarana gaib untuk menerima petunjuk dan bimbingan Tuhan, serta mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan. Sedangkan istilah nafs digunakan untuk menggambarkan unsur rohani manusia yang mengandung kualitas-kualitas insaniyah atau kemanusiaan.
Dalam al-Qur’an ditemukan tiga buah istilah yang dikaitkan dengan kata nafs, yaitu al-nafs al-mutma’innah seperti yang terdapat dalam surah al-Fajr ayat 27, al-nafs al-lawwamah seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyaamah ayat 2, dan al-nafs laammaratun bi al-su’ seperti yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 53. Ketiga buah istilah yang dikaitkan dengan kata nafs tersebut menyiratkan adanya tiga buah pembagian kualitas unsur rohani yang terdapat pada manusia.
Al-nafs al-mutma’innah secara etimologi berarti jiwa yang tenang, dinamakan jiwa yang tenang karena dimensi jiwa ini selalu berusaha untuk meninggalkan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik sehingga memperoleh ketenangan. Dimensi jiwa ini secara umum juga dinamakan qalb atau hati.
Al-nafs al-lawwamah secara literlik berarti jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri, maksudnya bila ia telah berbuat kejahatan maka ia menyesal telah melakukan perbuatan tersebut, dan bila ia berbuat kebaikan maka ia juga menyesal kenapa tidak berbuat lebih banyak. Dimensi jiwa ini dinamakan oleh para filosof Islam sebagai ‘aql atau akal.
Al-nafs laammaratun bi al-su’ secara harfiah berarti jiwa yang memerintah kepada kejahatan, yaitu aspek jiwa yang menggerakkan manusia untuk berbuat jahat dan selalu mengejar kenikmatan. Menurut para kaum sufi, dimensi jiwa ini dinamakan sebagai hawa atau nafsu.
Ahmad menyebutkan, meskipun unsur rohani manusia yang diistilahkan dengan nafs disebut dengan tiga buah istilah yang berbeda-berbeda sehingga seolah-olah ketiganya berdiri sendiri-sendiri, namun hakekat ketiganya merupakan satu kesatuan.
Arifin menyatakan, dinamai ruh (jiwa), atau nafs (nyawa) dalam fungsinya menghidupkan, menumbuhkan dan memperkembangbiakkan. Dinamai akal dalam fungsinya memikir (menyelidiki), mencari sebab akibat, mengingat dan menghayal. Dinamai hati atau kalbu dalam fungsinya merasa, dinamai nafsu dalam fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan.

3. Qalb
Qalb adalah sebuah istilah lain di samping istilah al-nafs al-mutma’innah yang digunakan di dalam al-Qur’an untuk menggambarkan salah satu unsur potensi rohani yang dimiliki oleh manusia. Istilah qalb dapat dijumpai antara lain di dalam al-Qur’an surah al-Hajj ayat 46. Al Ghazali mengatakan bahwa Qalb mempunyai arti fisik dan arti metafisik. Pengertian qalb menurut arti fisik adalah segumpal daging berbentuk lonjong yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri yang terus menerus berdetak selama manusia masih hidup. Qalb dalam pengertian fisik ini berfungsi untuk mengatur jalannya peredaran darah ke dalam seluruh tubuh. Qalb seperti ini terdapat pada manusia dan pada binatang. Adapun pengertian qalb secara metafisik, menurut Bastaman, menunjuk kepada hati nurani atau suara hati.
Memahami fungsi qalb dalam arti fisik sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Ghazali di atas, dapat diambil simpulan bahwa yang dimaksud qalb tersebut adalah organ tubuh yang disebut jantung (heart) dan bukan menunjuk kepada organ tubuh yang disebut hati (lever) .
Haq menyatakan bahwa qalb dalam arti fisik (jantung) merupakan titik tempat interaksi antara tubuh dengan qalb dalam arti metafisik (hati nurani). Interaksi tersebut secara psikologis dapat dirasakan, ketika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan normal maka qalb (jantung) berdetak secara teratur, namun ketika kondisi psikologis seseorang sangat senang atau terlalu cemas maka detak qalb (jantung) menjadi cepat.
Pembahasan tentang qalb dalam tulisan selanjutnya lebih mengarah kepada istilah qalb dalam pengertian metafisik, yaitu hati nurani atau suara hati.
Menurut Zamakhsyariy, hati nurani diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia yaitu baik dan suci, dan berkecenderungan menerima kebenaran dari Tuhannya. Jika hati nurani berfungsi secara normal, maka kehidupan manusia menjadi sesuai dengan fitrah aslinya, yaitu baik dan suci, dan dengan demikian manusia akan beriman kepada Allah swt.

4. ‘Aql
Secara etimologi ‘aql berarti mengikat/al-ribath, menahan/al-imsak, melarang/al-nahy, dan mencegah/man’u. Berdasarkan makna bahasa ini, Mujib berpendapat bahwa yang disebut orang yang berakal (al-‘aqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat dorongan-dorongan nafsunya, jika nafsunya terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi sehingga manusia dapat menghindari perbuatan buruk atau jahat.
‘Aql, ditransfer kedalam bahasa Indonesia menjadi akal dengan arti yang umum yaitu pikiran. Akal adalah subtansi yang bisa berpikir, dengan kata lain, berpikir adalah cara kerja dari akal, sehingga dapat dikatakan bahwa akal identik dengan pikiran, atau ratio dalam bahasa Latin, atau budi dalam bahasa Sansekerta, atau reason dalam bahasa Inggris.
Mengutip pendapat al-Husain, Mujib menyatakan bahwa akal mempunyai dua makna, yaitu: (1) akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini yang biasanya disebut dengan otak (al-dimagh), (2) akal ruhani, yaitu suatu kemampuan jiwa yang dipersiapkan dan diberi kemampuan untuk memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah) dan kognisi (al-mudrikat).
Al-Ghazali menyebutkan beberapa aktivitas akal, yaitu al-nazhar (melihat), al-tadabbur (memperhatikan), al-ta’ammul (merenungkan), al-i’tibar (menginterpretasikan), al-tafkir (memikirkan) dan al-tadakkur (mengingat). Apa yang dinyatakan oleh al-Ghazali mengenai aktivitas akal tersebut, dalam psikologi dikenal dengan istilah cognition (kognisi), yaitu sebuah konsep umum yang mencakup semua pengenalan, termasuk di dalamnya ialah mengamati, melihat, memperhatikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, mempertimbangkan, berpikir, menduga dan menilai.
Dalam Islam, akal diakui sebagai salah satu sarana yang sangat penting bagi manusia, bahkan diakui merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah al-Qur’an dan Hadits yang diistilahkan dengan ijtihad.

5. Hawa
Secara literlik hawa berarti menuruti kehendak. Hawa sering pula diistilahkan dengan syahwat yang berarti nafsu, selera, atau keinginan. Dalam bahasa Indonesia, hawa/syahwat diistilahkan dengan nafsu atau hawa nafsu. Nafsu merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia, dengan nafsu manusia bisa menikmati segala keindahan dan kenikmatan yang terdapat di alam ini, nafsu mendorong akal manusia untuk memikirkan cara-cara hidup yang lebih baik, dan nafsu pula yang mendorong manusia untuk hidup berkeluarga dan berketurunan.
Al-Falimbani membagi nafsu menjadi dua macam, yaitu nafsu seksual (syahwatul faraj) dan nafsu perut (syahwatul bathni). Nafsu seksual mendorong dan menyebabkan umat manusia berkembang dan berketurunan, sedang nafsu perut mendorong akal manusia untuk memikirkan cara-cara hidupnya yang lebih layak. Disamping nafsu seksual dan nafsu perut, Al-Ghazali menyebutkan bahwa terdapat pula nafsu marah/angkara murka (ghadlab). Nafsu marah mendorong manusia untuk melakukan apa saja atau menentang apa saja yang dianggap mengancam dan merugikan dirinya.
Istilah Hawa mencakup sekaligus nafsu seksual (syahwatul faraj), nafsu perut (syahwatul bathni), dan nafsu marah (ghadlab). Jika dipadankan dengan istilah dalam psikologi, istilah hawa nampaknya sekaligus mencakup dua buah istilah, yaitu appetite dan aggression, atau jika dipadankan dengan istilah yang terdapat dalam psikoanalisa, maka istilah hawa agaknya mirip dengan istilah id, yaitu bagian jiwa atau psikis yang seluruhnya dikuasai oleh prinsip untuk memenuhi kepuasan dan kesenangan, dan berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

  1. PENUTUP
Konsep manusia dalam pandangan filsafat Barat dan Islam memiliki perbedaan yang prinsipil. Barat melihat manusia dari sisi yang berbeda-beda setiap ilmuwan (parsial). Berbeda dengan pemahaman ilmuwan muslim bahwa manusia merupakan makhluk yang unik yang diciptakan sempurna dari mahluk-makluk lainnya. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ruh, nafs, qolbu dan hawa. Kendati secara harfiah keempatnya terpisah namun dalam hakekatnya mereka menyatu. Bahkan ruh disebut-sebut ikut berpengaruh terhadap eksistensi manusia dalam kehidupan ini.
Perbedaan pemahaman Barat dan Islam tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi perbedaan dalam  memahami konsep manusia dan kepribadiannya.  


DAFTAR PUSTAKA

Fridayanti. 2006. “Tentang Manusia dalam Perspektif Ilmu Barat”. Dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan, http://arc.itb.ac.id/~aris/PRIVAT/galileo.
Musa Asy’ari, Filsafat Islam tentang Kebudayaan, Yogyakarta, 1999
Smith, Linda dan William Raeper. 2004. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Muhammad Abdul Halim Sani, Filsafat Manusia; Siapakah Manusia? http://halimsani.wordpress.com/2007/09/06/

*** ****Makalah disampaikan dalam mata kuliah Psikologi Kepribadian, Bambang Suryadi, Ph.D dan DR. Septi Gumiandari, M.Ag dalam program Pascasarjana Kosentrasi Psikologi Pendidikan Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2010.