SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

November 06, 2020

ASAL GOWES TAPI ANJAL


Asal Gowes. Program baru Radar Cirebon yng bakal menyapa pembaca wilayah III Cirebon. Akan tampil saban Senin koran Radar. Edisi perdana akan mengangkat hutan mangrove "Caplok Barong" Desa Ambulu Losari Kab. Cirebon.

Demi liputan perdana, pada Sabtu 7 November 2020 sekitar 20 crew Radar Cirebon Group gowes ceria menuju Desa diperbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah ini. Sekitar 37 Km mereka menapaki jalanan dari kantor Radar Cirebon Kota Cirebon menuju desa wisata.


Halaman Asal Gowes mengangkat obyek wisata yang berada di wilayah III Cirebon. Bahkan berbagai komunitas gowes yang sedang menjamur, bisa ikut mejeng di halaman ini.

Gowes ke hutan Ambulu adalah satu dari banyak lokasi yang pernah dijajali para petinggi Radar. Sebelumnya pernah menapaki jalan Linggarjati Kuningan, Kopi Gincu di Sedong Kab. Cirebon, dan banyak lagi.


Tampak hadir dalam Gowes Sabtuan ini para pejabat Radar,. Seperti Bang Malik, Syah Syahbana, Iing Casdirin, Khairul Anwar, Raswidi Hendra Suwarsa, Yuda Sanjaya, Ugi, cak mamat, Imam Bukhori dan banyak lagi. Bahkan alumni Radar pun ikut hadir, yakni Deny Rochman (kini Korwil Pendidikan Kec Pekalipan), Apendi Cirebon (komisioner KPU).

Sayangnya, personil lainnya seperti Muhamad Noupel (anggota DPRD Kota Cirebon), Mohamad Joharudin (ketua Bawaslu Kocir), Riyan (RCTV), Toto Suwarto dan lainnya berhalangan hadir. Malah, isteri Pak Toto mengalami musibah laka lantas. Semoga lekas sembuh. Aamiin...


Gowes Sabtuan ini menempuh perjalanan sekitar 37 Km. Mulai start pukul 06.30 di pelataran Grha Pena Radar Cirebon Jalan Perjuangan. Setelah melintasi jalanan penuh kendaraan besar, sampai di lokasi pukul 09.30. Rombongan The Tour Gowes Radar Cirebon diterima langsung oleh kuwu (kepala desa) Ambulu Sunaji di balaidesanya.


Usai acara seremonial, rombongan melanjutan perjalanan ke lokasi hutan yang dikelola BUMDes Ambulu itu. Semua pengunjung wajib membeli tiket Rp5000 dan menjalani protokol kesehatan. Menurut Pak Kuwu, pengembangan hutan mangrove akan dibuat homestay (penginapan).


"Ada banyak orang mancing di sini tapi sulit mencari tempat untuk istirahat. Beberapa pengunjung dari luar bahkan turis asing hendak ke sini tapi ga ada penginapan," tutur Pak Kuwu sambil menambahkan jika pengelolaan wisata desa itu melibatkan perangkat desa dan warga setempat.


Sambil menikmati keindahan hutan mangrove, rombongan menikmati hidangan seafood dari Pak Kuwu. Nyem nyem nyem. Makasih Pak Kuwu Ambulu. (*)