SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

November 26, 2021

AKTIFIS HUMORIS ITU TELAH TIADA

Menjelang maghrib Jumat 26 November 2021, kembali ada kabar duka. Sebuah status facebook Janu Murdiyatmoko memposting berita lelayu, lengkap dengan foto almarhum :

"Innalillahi wainna ilayhi roji'un... allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Mhn didoakan kelapangan kubur utk adik saya TAJUDDIN JULIANTO BIN SUWISBAR... meninggal dunia Jumat, 26 Nov 2021 pkl 16.00."

Membaca kabar duka mendadak saya kaget. Usia Tajuddin relatif masih muda dibawah usia saya. Ia adalah adik Mas Janu, kakak kelas saya di Kampus Fisip Unsoed. Masa aktif di organisasi kaum muda Muhammadiyah, saya sering berjumpa dengan Tajuddin. Ia sebagai pengurus IPM/IRM dan saya pengurus IMM Kab. Banyumas.

Kebersamaan kami karena almarhum teman dengan Tarqum Azis, yang kini sibuk mengelola pondok pesantren. Kendati berbeda organisasi, namun sering bertemu pada saat acara-acara besar Muhammadiyah. Atau sekadar makan minum dan nongkrong bareng dengan teman-teman sesama aktifis. Seperti Nur Fauzi (politisi PAN), Imam Arif (Ketua KPU Banyumas) dan lainnya.
Almarhum juga teman isteri saya, sama-sama pernah jadi pengurus IPM/IRM Kota Purwokerto dan Kab. Banyumas.

Sejak kuliah di D3 Unsoed Tajuddin memang sudah bertubuh tambun. Rumahnya tak jauh dari Pasar Wage atau Kebon Dalem. Ayahnya adalah pegawai Depag Banyumas. Kakaknya persis, malah sudah berpulang ke rahmatullah lebih awal. 

Tajuddin dengan perawakan bongaor dikenal humoris. Selalu memecah kebekuan suasana dengan candaanya. Sering ke sekretariat IPM IMM di Jalan Dokter Angka No. 1 Kota Purwokerto. Satu komplek dengan SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto. Di tempat ini, para penghuni sekre dan juga Tajuddin sering ngumpul. Mulai rapat-rapat hingga tidur atau sekadar nyantai makan dan minum.

Bersama sohibnya Tarqum, mobilitas Tajuddin sering menggunakan vespa biru. Selepas kuliah tahun 2000, lama saya tak berjumpa dengan Tajuddin. Kabarnya hanya tahu ia aktif di PAN. Partai Amien Rais mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu. Di partai matahari ini Tajuddin konon sebagai sekretaris eksekutif. Selain aktif di organisasi Pemuda Muhammadiyah Kab. Banyumas.

Setelah lama tak jumpa, hanya kabar duka yang sampai kepada saya. Itu pun lewat facebook dan whatsapp group alumni IMM Banyumas. Dikabarkan melalui status fb sobatnya Tarqum. Tajuddin meninggal Pada pukul 16.00 WIB (Jum’at. 26 November 2021) di Rumah Sakit Dadi Keluarga Sokaraja Banyumas akibat serangan jantung. Telah dimakamkan di Desa Dagansari, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara. Desa tempat tinggal asal isterinya.

Selamat jalan kawan... Candaan cerdasmu akan kukenang selalu. Semoga iman islam dan amalmu diterima disisi Allah Swt. Dosa2mu akan Allah ampuni. Insha Allah jannah. Aamiin. 

Kota Cirebon Sabtu, 27 Nov 2021 I 03:45

Turut berduka:
Deny Rochman & Keluarga

November 23, 2021

GURU INI DITAKUTI TAPI DIRINDUKAN

Waktu maghrib baru saja lewat. Mendadak ada kabar duka tersiar di group WA alumni SMP. Satu lagi guru hebat masa SMP berpulang ke rahmatullah, Senin 22 November 2021.  Kabarnya Pak Muhidin wafat karena sakit di RS Ciremai. Seorang guru tulen hingga akhir hayatnya. Innalillahi wainnailahi rojiuun...

Pak Muhidin masa sebagai guru SMP Muhammadiyah Sindanglaut Kab. Cirebon dikenal sosok yang tegas. Bagi anak-anak bandel, kehadiran guru bersuara serak ini cukup ditakuti. Tak segan beliau menghukum anak-anak yang melanggar aturan sekolah. Membuat anak-anak jera.

Semasa dididik olehnya pria asal Desa Lemahabang Pejagalan ini mengajar Aqidah Akhlak dan Bahasa Indonesia. Secara pribadi, saya tak banyak mengenal beliau. Selain guru yang sedikit bicara, dikenal alim, dan taat ibadah. Rumah orang tuanya disamping Masjid Al Huda. 

Masjid di ruas jalan Lemahabang-Jepura ini pada masa sekolah era 1987-1989, menjadi candradimuka "pengkaderan" para siswa. Setiap malam minggu, beberapa siswa sekolah ini mengikuti kajian dan menginap hingga pulang esok paginya. Al Huda pada masa itu punya kesan tersendiri pada anak-anak SMPM. 

Selepas SMP, saya masih bertemu Pak Muhidin sebagai guru SMAM. Sekolah satu komplek dengan SMPM, di lokasi baru di Gebah Sigong. Wajahnya perlahan hilang, setelah dirinya berkecimpung di Sekolah Al Irsyad Lemahabang. Sesekali berjumpa di jalan, atau saat jadi khotib sholat Jumat di Al Huda. Termasuk, saat khotbah kematian 24 Juni 2016 teman rejawatnya saat sama-sama menjadi guru SMPM, Hafidzin Hasanudin.

Seiring dengan waktu, lama tak jumpa dengan beliau. Pernah berjumpa lagi di SMP Al Azhar Kota Cirebon. Saat saya liputan jurnalistik di sekolah tersebut, era 2001-2004. Sekian tahun berjumpa lagi, beliau sudah beralih kesibukan di yayasan pendidikan Assunnah Cirebon Kalitanjung hingga akhir hayatnya. 

Selama mengenal sejak SMP hingga saya bekerja dan berkeluarga tak banyak yang berubah dari sosok Muhidin. Bawaanya suaranya yang serak, perawakannya yang slim, jalannya yang cepat dan selalu hangat jika diajak ngobrol. Kehidupannya berjalan istiqomah, juhud dalam kesederhanaan. Anak dan isterinya taat beragama hingga berhijab dan bercadar.

Kini mulai 22 November 2021, sosok Muhidin tak akan lagi dijumpai dalam kehidupan dunia. Pukul 09.00 Selasa esoknya jenazah guru ditakuti namun dirindukan ini berbaring tenang di alam kubur. Memulai babak kehidupan baru melakukan perjalanan panjang di kampung akherat. Dimulai dari pemakaman Assunnah 2 di komplek pondok pesantren salafy tersebut. Selamat jalan guruku.... (*)

Penulis:
DENY ROCHMAN, alumni 1991 SMP Muhammadiyah Sindanglaut Kab. Cirebon