SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Januari 23, 2021

KARENA MISTIS, CURUG INI BATAL JADI TEMPAT WISATA

Setiap desa berlomba-lomba menggali potensi wilayahnya. Ada tuntutan dengan bantuan dana desa agar memiliki BUMDes. Namun ada juga desa yang mengalami kendala dalam mencari sumber pendapatan alternatif. Desa Panongan Lor, misalnya, upaya mengembangkan sektor wisata di sana terkendala masalah mistis. 

Laporan :
DENY ROCHMAN
Penikmat Asal Gowes Radar Cirebon

Desa Panongan Lor berada di Kec. Sedong Kab. Cirebon. Desa pemekaran dari Desa Panongan pada tahun 1980-an. Perbatasan dengan Desa Putat, dan Desa Belawa. Potensi desa utama adalah pertanian. Sebagian penduduk banyak yang merantau ke luar kota. Nah, pada awal kepemimpinan kuwu Agus Syamsah ada keinginan mengembangkan potensi alam beruba curug.
Curug ini dikenal masyarakat sekitar adalah Curug Pagenjrengan. Berada di Dusun 2 RT 01 RW 02 Desa Panongan Lor. Perbatasan dengan Desa Belawa, di sekitar daerah aliran sungai Ciwado. Namun sayang, rencana pihak desa mengembangkan potensi wisata alam terhenti karena masalah mistis. Hal mistis yang dirasakan dan didengar warga sekitar, bahkan malah sempat dialami Pak Kuwu kelahiran Desa Kanci Wetan Kab. Cirebon ini.
Tim Asal Gowes Radar Cirebon melakukan penelusuran potensi Desa Panongan Lor pada Sabtu 23 Januari kemarin. Seperti biasa, rombongan bertolak dari "markas besar" Radar Cirebon di Jalan Perjuangan Kota Cirebon. Menelintasi jalan tanjakan sepanjang 14 km dari Bandara Penggung, melibas tanjakan maut jalan Gronggong hingga Desa Wanayasa Beber Kab. Cirebon. Kemampuan personil tim yang berbeda membuat mereka tercecer berjauhan jaraknya.
Di tikungan Desa Wanayasa, tim rehat sejenak. Mengatur nafas, memulihkan energi dan menata tali kolor. Menu wajib teh manis hangat, lontong dan gorengan. Sayang tak tersedia menu buah-buahan segar di warung pangkalan ojeg tersebut. Semua personil masih terlihat semangat melanjutkan perjalanan 9,3 km menuju Desa Panongan Lor Kec. Sedong. Kali ini akan melintasi turunan panjang dan jalan aspal yang rusak.
Saya sendiri mencoba untuk tetap semangat mengikuti gowes rutin Sabtuan kali ini. Maklumlah, sejak dua hari kondisi badan sedang unfit. Meriang. Isteri sempat menyarankan agar jangan gowes terlalu jauh karena kondisi kesehatannya kurang baik. Namun saya tetap ikut serta. Harapannya imun tubuh saya segera pulih. Selain gerak badan, gowes Radar juga bikin gerak hati dan pikiran. Ada selingan guyu dan ngakak. Toh kalau tak kuat gowes, pilihannya bisa diloading.
Masuk wilayah Desa Panongan Lor, rombongan diarahkan Pimpro Bung Jun belok ke kiri. Ternyata lokasi balai desa berada di tengah sawah. Mungkin karena desa pemekaran sehingga bangun baru. Sepanjang jalan pesawahan, tim sejenak selfie berjamaah. Mengabadikan peristiwa di alam terbuka nan indah ciptaan Sang Kuasa. 
Dari kejauhan, terdengar suara speaker. Tim mengira rombongan akan disambut meriah aparat desa dan warga kampung. Sesampai di lokasi, tak ada kerumunan massa sedikit pun. Sepi, lengang. Hanya dijumpai bangunan balai desa yang masih nampak baru. Di sampingnya berdiri megah bangunan masjid jami'. Di sisi lain terdapat sekolah SD Panongan Lor. 
Sambil menanti tuan rumah, personil tim memanjakan diri di sekitar lokasi. Ada yang main-main ayunan, putaran layaknya anak TK. Ada yang foto-foto selfie, atau muter-muter gowes ke jalan menuju kebun mangga gincu dan Curug Pagenjrengan. Sekadar menuntaskan "syahwat" gowesnya yang belum memuncak sepanjang jalan tadi. 
Sesaat kuwu Desa Panongan Lor Agus Syamsah menerima rombongan. Bertempat di aula desa tim siguguhi lontong dan gorengan ditemani teh manis hangat dan air mineral. Kendati desa sepi aktifitas aparat lain namun obrolan tetap seru dalam mengenal desa ini lebih dekat. Keseruan makin menarik saat kuwu bercerita keinginan lama yang tak terwujud. Ingin mengembangkan potensi alam curug menjadi tempat wisata alam. Sambil menikmati curug, pengunjung bisa bawa mangga gincu.
Gara-garanya ia mengalami kejadian mistis, obsesi itu tertunda. Menurut kuwu, sepulang survai ke lokasi curug badannya mendadak sakit. Diagnosis dokter dirinya mengalami sakit tipes. Namun di rumah belum juga kunjung membaik. Sampai akhirnya para sesepuh menyarankan agar rencana kuwu menyulap curug jadi tempat wisata diurungkan. "Jangan cari masalah di curug Pak Kuwu," ujar Agus menirukan nasehat para sesepuh.
Kuwu Agus melanjutkan, ada cerita mistis lain yang menimpa pendatang. Lokasi curug yang berpotensi galian pasir, ada aktifitas penambangan. Namun alat-alat beratnya mendadak hilang, disembunyikan. Bahkan salah satu penambangnya beberapa hari kemudian meninggal dunia. Kesambet. 

Ketua RT 01 Kasmad sebagai warga asli di sekitar lokasi menuturkan, bahwa lokasi curug dikenal ada penunggunya. Warga mengenalnya siluman sejenis ular besar. Konon siluman ini memiliki jelmaan lain berupa hewan-hewan melata di sekitar lokasi. Maka warga sekitar tak berani mengusir apalagi membunuhnya, karena akan berdampak fatal. Mulai dari sakit, bencana longsor hingga kematian. Kondisi ini membuat warga tak berani melakukan aktifitas fisik di sekitar curug. 

Tim yang asik menyimak obrolan kuwu dan ketua RT itu hanya puas dengan membayangkan. Membayangkan penampakan dari keadaan curug di lokasi hingga wujud dari siluman ular tersebut. Hingga waktu pulang tiba, rombongan tidak sempat meninjau ke lokasi langsung. Jaraknya yang cukup jauh, aksesnya sulit. Apalagi Pak Kuwu kelihatannya enggan untuk mengantar ke lokasi. Takut kesambet lagi ya pak.... Hehehe (*)

Januari 21, 2021

BENGKEL SEPEDA INI BERI LAYANAN PLUS

Apakah sepeda Anda bermasalah? Bagi warga Kota Cirebon dan sekitarnya tak perlu bingung. Bingung mencari bengkel yang cocok. Baik cocok hasil pengerjaannya, maupun cocok harganya. Tak hanya itu, ada keuntungan lain yang belum tentu dirasakan dibengkel sepeda lainnya. Dimanakah bengkelnya, siapa sih montirnya, mekaniknya?

Catatan
DENY ROCHMAN
Penikmat Asal Gowes Radar Cirebon

Sudah lama saya mendengar nama mekanik bengkel sepeda ini. Paling tidak sejak pertama kali diajak gowes oleh personil Radar Cirebon pada 29 Oktober 2020 lalu. Momentum libur nasional Maulid Nabi Muhammad Saw. Sehari peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober. Kendati gowes perdana, saya sudah diajak anjal melewati rute gedung Perjanjian Linggarjati Kab. Kuningan. Sekitar 24 Km dari kantor koran Radar Cirebon. 
Sejak itu group Whatsapp Gowes Kuliner ramai berbincang menyebut nama bengkel yang berada di kawasan bisnis Gunungsari Kota Cirebon. Member group WA ini ternyata, sudah dihuni para alumni eks jurnalis Radar Cirebon. Sebut saja M. Noupel, SH yang kini menjadi anggota DPRD Kota Cirebon. Ada M. Joharudin, M.Pd yang menjabat Ketua Bawaslu Kota Cirebon. Apendi, SE sebagai komisioner KPU Kab. Cirebon. Saya sendiri sudah dua tahun ini beralih tugas menjadi Korwil Pendidikan Kec. Pekalipan.
Nama-nama lainnya juga dijumpai. Ada M. Fauzi yang jadi bos Pasundan Ekspres, Nana Hanapi, Ivan Rosyadi, dan lainnya. Nah untuk dua nama terakhir, hingga gowes saba desa ke-11 lokasi belum juga ikutserta. Sementara itu bos Fauzi tak usah ditanya. Jam terbang gowesnya sudah antarkota lintas propinsi, seperti bus AKAP. Hebringnya lagi berbagai medan tanjakan dan turunan ia libas dengan sepeda lipat kesayangannya. Rutenya banyak di Kab. Subang, daerah kekuasaan surat kabar yang dikomandaninya. Beberapa kali ikut bergabung dengan tim Asal Gowes almamaternya Radar Cirebon.
Desa-desa yang sudah menjadi sasaran gowes rata-rata desa di Kab. Cirebon. Desa itu antara lain Ambulu Kec Losari, Sumur kondang Kec.Karangwareng, Belawa Lemahabang, Kamarang Sedong. Desa lainnya adalah Sitiwinangun Plumbon, Susukan Dukupuntang, Keraton dan Pejagan Lor Kec. Suranenggal, Ciawi Japura Kec. Susukan Lebak, dan Desa Karanganyar Kec. Panguragan. Sementara satu desa yakni Kedokan Agung masuk wilayah Kab. Indramayu.
Berbagai medan gowes yang ditempuh membuat kesehatan sepeda para jurnalis ini menurun. Setiap kali ada problem, bengkel di Jalan Tentara Pelajar ini menjadi solusinya. Bagi mereka pasien baru, untuk menemukan bengkel sepeda Toko Agung ini gampang-gampang sulit. Gampang karena lokasinya berada di kawasan bisnis. Berderet toko-toko telepon seluler. Namun sulitnya karena toko sparepart sepeda dan becak ini tempatnya nyempil, kecil. Masih kalah populer toko kue Ruby sebelahnya.
Di toko sepeda sejak 1985 di sana Agus, mekanik bengkel sepeda ini berkreasi. Menyembuhkan banyak pasien sepeda bermasalah. Yah,  namanya Agus. Nama yang ramai jadi perbincangan penduduk group WA Asal Gowes Radar Cirebon. Agus sendiri, mulai bergabung berkantor di Toko Agung pada 1989. Statusnya sebagai asisten membantu pengerjaan sepeda kakaknya, yang akrab disapa Ucok. Seiring dengan waktu, skill Agus soal rakit merakit, servis dan reparasi sepeda mulai mahir. Pada 2000 Agus mulai disapi, mandiri mengelola bengkel. Sementara kakaknya merantau ke Kalimantan. 
Menjalani profesi sebagai mekanik sepeda memang bukan keinginannya. Namun merupakan kehendak Tuhan. Jejak rekamnya selama proses pendidikan tak pernah mempelajari ilmu bengkel. Alumni SMA Diponogoro Cirebon (kini sekolahnya sudah tidak ada), banyak belajar tentang sepeda dari kakaknya. Sebelumnya Agus berkerja serabutan. Mulai menjadi instalatur listrik, kerja di pabrik Bandung hingga jadi kuli bangunan. Petualangannya di dunia kerja membuat ia terlambat menikah. 
Siapa nama lengkap Agus? Disela kesibukannya membedah sepeda, Agus mengaku nama lengkapnya tidak femilier. Agus liar. Entahlah apa makna dibalik nama Agus oleh orang tuanya seorang pelaut dari Kepulauan Riau. Anak ketujuh dari delapan saudara ini kini tinggal bersama satu isteri dan tiga anak kembarnya yang baru lulus di SMK Muhammadiyah Kota Cirebon. Tanah kelahirannya di Bagan Api-api Riau hanya ditinggalinya dua tahun. Orang tuanya seorang pelaut membuat isteri dan anak-anaknya hijrah ke Klayan Kab. Cirebon. 
Kini mekanik yang pernah berambut gondrong ini dengan ikhlas menjalani takdir Tuhannya. Menjadi solusi bagi sepeda bermasalah. Sejak 1989 beroperasi semakin lama bengkelnya semakin dikunjungi orang. Puncaknya saat gowes menjadi tren di masa pandemi bengkelnya tak pernah sepi pengunjung. Salah satunya Bang Malik (Abdul Malik), Direktur RCTV yang menjadi pelanggan. Pelanggan yang menggiring pelanggan komunitas Asal Gowes. 
Menariknya di bengkel Agus, cara kerja yang cepat, hasil memuaskan tapi harganya bersahabat. Untuk merakit sepeda lipat misalnya, ongkosnya kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000. Itu pun masih bergaransi. Jika sepulang dan dipakai sepeda masih kurang nyaman, sepeda bisa diservis lagi sampe loncer dan gratis. Orangnya yang ramah dan ceplas ceplos terasa kita tak berada dibengkel sepeda. Apalagi sambil menunggu menyantap lotek atau sega lengko plus telor dadar di warung sebelahnya, terasa hidup lepas dari segala masalah. Termasuk masalah sepeda yang kadang isteri ngomel. Hehe (*)