SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Agustus 27, 2018

HEBRING, SISWA BACA SENYAP MASSAL

SMP Negeri 4 Kota Cirebon menggelar kegiatan readathon, Jumat (24/8). Kegiatan membaca senyap massal tersebut dipusatkan lapangan olahraga sekolah setempat. Tak hanya ratusan siswa, guru-guru pun ikut membaca buku-buku non mata pelajaran.

Kepala SMP Negeri 4 Kota Cirebon Hj Sumiyati, S.Pd., M.Si menjelaskan, kegiatan membaca senyap massal tersebut merupakan bagian gerakan literasi sekolahnya. Kegiatan itu akan dilakukan secara berkesinambungan minggu ketiga setiap bulannya.

"Setiap siswa pada minggu ketiga harus mengikuti kegiatan readathon. Mereka membaca buku non mata pelajaran. Buku-buku diperoleh bisa dari perpustakaan sekolah atau buju koleksi di rumahnya," tutur Hj Sumiyati.

Kegiatan readathon adalah kegiatan membaca senyap massal selama 45 menit. Readathon asal kata read a marathon. Lari marathon biasanya menghabiskan waktu 45 menit. Secara teknis pelaksanaan readathon menyesuaikan kebutuhan setiap sekolah.

Jumat pagi kemarin sekitar 1.400 siswa duduk bersimpuh dilapangan olahraga sekolah. Mereka diminta membaca buku yang dibawanya untuk dibaca secara senyap. Usai kegiatan membaca perwakilan 2 siswa dan satu guru untuk mempresentasikan isi buku yang sudah dibaca.

Selain readathon, kegiatan sehari-hari sebelum belajar diawali dengan membaca 15 menit. Selain tadarus lima ayat Al Qur'an. Secara rutin siswa melakukan review dari buku yang dibaca. Tugas review tersebut dinilai oleh guru. (HumaSpenpat)

Agustus 26, 2018

GURU MELAWAN HEGEMONI BERITA

Oleh: Deny Rochman*)

Jaman sudah berubah. Guru tak lagi sibuk mengurusi siswanya. Tetapi ia harus siap untuk melawan perubahan. Perubahan yang membawa dampak buruk bagi peserta didiknya. Kuantitasnya yang banyak menjadi kekuatan dalam menentukan arah perubahan.

Hidupnya di jaman digital menuntut mereka harus melek teknologi. Khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan TIK membuat akses informasi membanjir dari segala penjuru. Apapun jenis dan bentuk beritanya, mulai yang valid hingga hanya hoax.

Fakta menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Dilaporkan para pengguna internet 95 persen adalah pengguna media sosial. Data pada tahun 2016 pengguna aktif media sosial sebanyak 88 juta. Sehari para pengguna android itu mengecek media sosial sebanyak 80 kali, 14 kali diantaranya mengecek facebook.

Angka statistik di atas dipastikan jumlahnya terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Pertama, perkembangan teknologi adroid yang terus tumbuh. Kedua, tak ada kebijakan negara terkait pembatasan teknologi ini secara masif. Ketiga, kepemilikan andoid oleh masyarakat kian tak terkendali.

Meningkatnya penjualan android menunjukkan semakin mudahnya masyarakat mengirim dan mengakses informasi secara bebas di dunia maya. Artinya, media sosial memiliki kekuatan informasi yang bisa mengalahkan kekuatan media massa konvensional. Efeknya peredaran informasi makin tak terkendali.

Sebelumnya kekuatan demokrasi itu hanya dikuasai empat kekuatan. Kekuata itu eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers. Kini ada kekuatan baru yaitu media sosial online sebagai kekuatan kelima. Kekuatan yang ikut mempengaruhi dan membawa perubahan.

Kondisi di atas tentu menjadi tantangan bagi guru-guru di Indonesia. Pilihannya berkembang atau tumbang. Guru-guru bisa berkembang di era gedget apabila mampu bermain peran dalam mempengaruhi perubahan. Sebaliknya jika tak mampu memanfaatkan teknologi yang ada guru-guru akan tergilas.

Guru-guru yang gaptek dan ketek akan kalah jauh kemampuannya dengan siswa didiknya. Gaptek adalah gagap teknologi dan ketek adalah ketinggalan teknologi. Kemampuan minus guru ini menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional.

Tantangan kemampuan siswa hidup di abad 20 harus dididik oleh guru-guru dengan kemampuan abad 19. Apalagi diperburuk dengan kondisi sarana belajar dengan suasana abad 18. Sungguh berat tantangan guru di abad 20 ke depan.

Lahirnya era digital akan semakin banyak media online, apakah berbasis website atau pun media sosial. Jika guru tak memiliki kemampuan menulis berita maka ia hanya menjadi pembaca berita, dan obyek pemberitaan. Bahkan akan jadi korban berita hoax. 

Dunia pendidikan bisa jadi bulan-bulanan media massa. Berbagai pemberitaan media akan lebih mudah merugikan citra pendidikan. Bad news, good news. Begitulah alasan banyaknya berita pendidikan cenderung miring karena sektor ini menyedot perhatian luas publik.

Pada sisi lain, banyaknya media online belum dimanfaatkan dengan baik dan benar oleh guru-guru. Mereka tak sedikit penggunaan hape untuk kesenangan semu. Wall medsos dipenuhi status dan gambar narsis, curhat, lebay dan alay. Sehingga medsos belum bisa menjadi power full membangun citra positif pendidikan.

Upaya Dinas Pendidika Kota Cirebon mengadakan Workshop Guru Menulis Berita dianggap sebuah langkah cerdas. Kegiatan bekerjasama dengan Komunitas Literasi Gelemaca itu akan menyiapkan guru-guru sebagai penulis berita untuk media internal pendidikannya. Baik media sekolah, dinas maupun media sosial pribadi guru.

Saatnya guru-guru harus belajar menulis untuk publikasi online. Memberitakan kegiatan sekolah, kegiatan ilmiah bahkan kegiatan pribadi. Jika pun harus membuat status atau posting foto dan video, lebih pada bermuatan informatif, jika tak mampu inspiratif dan motivasi.

Jika guru-guru banyak memposting kabar positif di media sosial apalagi sampai memviralkan maka suasana dunia pendidikan terasa sejuk dan damai. Lebih dari itu budaya literasi guru semakin baik, tak terjebak berita-berita hoax menyesatkan. (*)

*) Penulis adalah jurnalis pensiun jadi guru.


ISAK TANGIS WARNAI PERNIKAHAN HARIS DAN ALIM

Sebuah undangan biru dijumpai di meja kerja di rumah. Suatu pernikahan akan digelar pada Minggu, 26 Agustus 2018 di Indramayu. Putera kedua paman Drs Thoyibin bernama Ahmad Haris Januar Syahidan, ST mempersunting gadis pujaanya Alimmatin Suhartini.

Perjalanan ke lokasi pernikahan memang tak sulit. Butuh waktu hanya sekitar 1 jam untuk menempuh jarak 46 Km dari kawasan Pronggol Pegambiran Kota Cirebon. Yang masalah, bagi orang yang belum ke sana apalagi jika jalannya tak mengikuti denah, jalannya bisa berputar-putar blusukan sampe mumet. Hehe...

Kendati blusukan armada Black Sweet neng Senia (Xenia) yang ku bawa berhasil mencuri start. Ternyata aku lebih cepat sampai dari rombongan penganten pria dari Sindang Indramayu. Tak lama kemudian, beberapa menit sebelum akad nikah di mulai pukul 09.00 rombongan tiba di lokasi hajat.

Sebuah Pajero putih mobil penganten pria singgah pertama. Disusul kemudian puluhan kendaraan yang mengawalnya. Semuanya berhenti di jalan By Pass Desa Kliwed Kertasmaya Kab. Indramayu. Rumah mempelai perempuan yang indah dan luas.

Keluarga besar Drs Thoyibin ikut hadir dari segala penjuru arah mata angin. Sukabumi, Jakarta sekitarnya, kab. Cirebon, Indramayu, Semarang, Kota Cirebon dan Bandung. Sayangnya satu saudaranya di Pontianak berhalangan hadir dalam hajat bersejarah tersebut.

Kedua mempelai dengan balutan busana gaun putih menjalani proses ijab qobul. Keduanya dikelilingi orang-orang terkasih di meja akad. Orangtua mempelai perempuan H. Suharto, SH dan Hj Martini Angkasawati serta orangtua mempelai pria Drs Thoyibin dan Ibu Icin Sunarsih.

Ratusan undangan hadir dari keluarga besar, tetangga dan kerabat kedua mempelai penuh khidmat. Mereka menjadi saksi pernikahan dua insan manusia yang sudah terpaut hatinya sejak sekolah SMA. Kesetiaan mereka sudah teruji dengan pasang surut waktu selama kuliah dan bekerja.

Ayah Alim, dengan terbata-bata menitikan air mata melepas anak sulungnya ke pangkuan Ahmad Haris. Lelaki yang menjadi pujaan hati Alim. Alim sebagai dokter dan Haris bekerja di perusahaan BUMN mengikat janji sehidup semati membina rumah tangganya sakinah mawadah warohmah. Aamiin....

Selamat yaaah....