SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Agustus 06, 2016

YUK... BELAJAR MENULIS BERITA

Oleh :
Deny Rochman

A.   PENDAHULUAN
Penulis bilang menulis itu mudah, semudah orang ngomong. Yah, tentu saja menulis sekadar menulis tentu saja mudah, siapapun bisa bagi mereka yang pernah mengeyam bangku pendidikan. Yang susah itu adalah menulis dengan baik dan benar sesuai standar baku dunia menulis. Nah, untuk mengawali belajar menulis, ada cara menulis yang gampang. Apa itu? Menulis berita.

Menulis berita dirasa lebih mudah daripada menulis artikel atau karya tulis ilmiah. Kok bisa? Tentu saja bisa. Perbedaan tingkat kesulitan tersebut terletak pada sumber data dan informasi yang ditulis. Jika berita sumber datanya dari fakta sosial, dokumentasi dan observasi. Fakta sosial tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan dengan pola rumus 5W 1H (what, who, where, when why dan how). Fakta tersebut bisa berupa peristiwa atau kejadian, bisa juga berupa pernyataan dari nara sumber.

Sementara dalam penulisan karya ilmiah bersumber dari teori-teori, konsep, hasil penelitian, riset dokumen dan lainnya sehingga memerlukan analisis tingkat tinggi. Semakin banyak referensi yang dibaca, maka tulisan itu semakin akurat, valid dan ilmiah. Berbagai kajian pustaka dan realitas sosial tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan yang sistematis, logis dan ilmiah.

Tulisan artikel ini lebih fokus belajar menulis berita untuk keperluan website literasi. Mengingat suplai berita dari para guru penggerak dan perintis khususnya akan menguatkan keberadaan dan kelangsungan website literasi. Selama workshop dan saat menjalani program literasi di sekolah-sekolah akan banyak peristiwa atau statetmen yang berpotensi sebagai sumber berita. Sayangnya keterbatasan kemampuan memahami dan menulis berita membuat momentum menarik dan unik tersebut terlewatkan tanpa makna.

B.    JENIS BERITA
Berita merupakan peristiwa atau kejadian yang dilaporkan, baik kejadian yang akan datang, yang sedang dan kejadian yang sudah terjadi. Dalam pemberitaan, ada jenis-jenis yang biasa dikenal antara lain :
1.       Berita Langsung (Straight News)
2.       Berita Ringan (Soft News)
3.       Berita Kisah (Feature)
4.       Laporan Mendalam (Indepth Report)

Dalam penulisan berita langsung (straight news), yaitu pelaporan kejadian yang perlu disampaikan dengan segera. Karena sifatnya segera biasanya berita ini bersifat informatif dan memuat hal-hal pokok dan penting. Berbeda dengan jenis berita lainnya di atas, jenis berita ini dalam teknik penulisannya relative lebih mudah dan sederhana. Dalam penulisannya cukup memuat unsur 5 W + 1 H untuk berita kejadian atau pernyataan menarik untuk pemberitaan jenis pernyataan dari nara sumber.


Berita ringan (soft news) biasanya berupa berita yang menulis sisi lain dari berita utama. Jenis berita ini bisa bersifat menghibur dan unik. Misalnya dalam kegiatan workshop literasi selama tiga hari di hotel, pasti ada sisi lain dari kegiatan tersebut. Contohnya, ada peserta yang punya selera selfie di setiap sudut hotel dan kegiatan. Atau disela acara melepas penat ada siswa yang berbalas cerita humor dan sebagainya.



Sementara berita kisah (Feature) atau tulisan khas jurnalisme mengupas sesuatu yang unik dan menarik, sisi human interest dibalik peristiwa yang terjadi. Misalnya, dalam kegiatan workshop literasi ternyata ada peserta yang membatalkan tidak mengikuti pelatihan lain dari dinas demi mengikuti kegiatan literasi. Atau ada peserta yang rela menempuh perjalanan jauh naik motor untuk hadir acara literasi.


Sedangkan laporan mendalam (Indepth Report) adalah tulisan jurnalistik melalui riset dan analisis dalam mencermati sebuah data, fakta dan informasi yang diterima jurnalis. Tulisan ini biasanya isu yang diangkat memiliki dampak yang besar dan mendalam bagi banyak orang dalam kehidupan. Misalnya, bagaimana efek kegiatan literasi bagi peningkatan kualitas pendidikan di sebuah daerah.

Dalam sebuah peristiwa, secara bersamaan bisa ditulis dalam beberapa jenis berita, yakni berita langsung, berita ringan, berita kisah dan berita mendalam. Banyaknya jenis berita yang ditulis bergantung dari nilai berita pada peristiwa tersebut.

C.    RUMUS BERITA
Dalam menuliskan rumusan teras berita (lead), ada kaidah-kaidah dasar yang bisa menjadi rujukan bagi teknik dasar penulisan berita yaitu :
a.       Teras berita unsur WHO
-           Who, what, when, where
-           Who, wahat, when
-           Who, what, where
b.      Teras berita unsur WHAT
-           What, who, where, when
-          What, who, where
-          What, who, when.

Contoh peristiwa :
Dinas Pendidikan Jawa Barat mengirimkan undangan tertulis kepada guru-guru dari SD dan SMP, juga pengawas dan pustakawan di wilayah kerjanya. Mereka berjumlah 29 orang diminta untuk mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan tersebut  berlangsung selama tiga hari, 20-22 Juli 2016 bertempat di Bandung. Tujuan kegiatan tersebut adalah melakukan persiapan para nara sumber untuk kegiatan pelatihan sekolah perintis literasi yang akan dimulai tanggal 27 Juli hingga 18 Agustus 2016. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh kepala dinas dan stempel basah. 

Pola Rumusan  
What    = kegiatan Focus Group Discussion (FGD)
Who     = Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat
                   Guru, pustakawan, pengawas
Where  = Bandung
When    = 20-22 Juli 2016
Why      = Persiapan nara sumber untuk pelatihan sekolah perintis literasi
How      = (unsur ini ditulis tentang proses jalannya kegiatan berlangsung)
Contoh Berita unsur WHO dengan pola rumusan Who, what, when, where :


Sebanyak 29 orang peserta mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) literasi selama tiga hari 20-22
                     Who                                                                 What                                                                        When

Juli 2016 di Bandung.
        Where
  
Contoh Berita unsur WHAT dengan pola rumusan What, who, where, when :

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Literasi Dinas Pendidikan Jawa Barat diikuti sebanyak 29 orang
What                                                                                                                                                                     Who

peserta.  Kegiatan yang diikuti oleh guru SD dan SMP, pengawas dan pustakawan tersebut bertempat di

Bandung selama tiga hari, 20-22 Juli 2016.
Where                                       When

Pola penulisan teras apa (what) dan siapa (who) tidak melulu menunjukkan berita kejadian dan berita ketokohan. Sudut berita what dan who bisa mengacu pada sesuatu yang menarik dan unik dalam kejadian atau pernyataan dari sumber berita tersebut.

D.   NILAI BERITA
Jika dicermati dengan baik, banyak momen dan fenomena sosial yang bisa menjadi sumber tulisan berita. Sayangnya karena intuisi jurnalisme kita tidak terasah dengan baik maka semuanya berlalu bergitu saja. Kurang pahamnya terhadap nilai sebuah berita menjadi factor utama terabaikannya momentum dan fenomena yang terjadi.

Nilai berita adalah patokan wartawan dalam menilai sebuah fakta atau kejadian apakah layak diberitakan atau tidak. Kelayakan nilai berita pada sebuah kejadian paling tidak ada 10 hal yang bisa menjadi pertimbangan apakah peristiwa itu layak diberitakan atau tidak.
1. Magnitude (besarnya)
2. Significance (penting)
3. Actuality/Timeliness (aktual)
4. Proximity (kedekatan)
5. Prominence (ketokohan)
6. Impact (efek)
7. Conflict (konflik)
8. Human Interest (menyentuh sisi kemanusiaan)
9. Unusualness (unik, tidak lazim)
10. Sex (seks)

Dengan memahami nilai berita tersebut maka saat kita melihat sebuah fakta harus mampu menuliskan sudut berita yang bagus, menarik dan unik. Nah, apakah penulisan berita rumusannya menggunakan what atau who dilihat dari bobot nilai berita. Jika kejadian lebih menarik dan berdampak maka unsur what lebih dominan. Sebaliknya jika ketokohan dari pelaku kejadian lebih berpengaruh maka unsur who menjadi landasan menulis berita.

Contoh  :
  1. Motor seorang petani jatuh tersungkur  ke parit hingga korban patah tulang akibat jalan berlubang. (unsur WHAT lebih dominan).

Jika ditulis dalam berita :  
Hati-hati jika berkendara bermotor melintasi jalan berlubang. Jika tidak nasibnya bisa seperti petani yang tersungkur ke parit. Akibatnya kaki petani tersebut patah tulang.

  1. Motor yang dinaiki bupati tersungkur  ke parit hingga korban patah tulang akibat jalan berlubang. (unsur WHO lebih menarik)

Jika ditulis dalam berita :  
Sial betul yang dialami bupati yang satu ini. Gara-gara jalan berlubang, motor yang ia naiki tersungkur ke parit sehingga tulang kakinya patah.

Kesimpulannya, jika kita melihat sebuah peristiwa maka harus dilhat dari sudut nilai berita. Nilai berita tersebut kemudian disandingkan dengan jenis berita, mana yang lebih sesuai dan menarik bagi pembaca. Ingat, jangan terjebak menulis berita seremonial jika menghadiri acara kegiatan, jika ada pernyataan atau sisi lain yang lebih menarik mengapa tidak untuk diberitakan? Terlebih jika kegiatan itu sama seperti workshop. Jika menulisnya dari sisi seremonial, maka acara serupa akan ditulis sama, yang membedakan waktu dan tempat saja.

Satu kegiatan bisa dikembangkan dalam beberapa jenis berita. Dalam kegiatan workshop, selain acara penutupan dan pembukaan yang bisa menjadi bahan berita, juga Tanya jawab dan diskusi peserta dalam setiap sesi materi menjadi sisi menarik tersendiri jika diberitakan. Belum lagi jenis berita ringan bisa ditulis, misalnya saat pemateri bicara, peserta ada yang mengantuk, ngobrol atau pada absen di ruangan.

Semoga bermanfaat….

Cirebon, 7-8-2016

*) Penulis adalah Anggota Dewan Redaksi Website Literasi Jawa Barat