SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Mei 04, 2016

MENANTI KINERJA PERIODE PENYEMPURNA: KABINET PELANGI LEBIH PROGRESIF

*Catatan Refleksi Musyda PDM Kab. Cirebon 2016 (Part-3/Habis)




Jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Cirebon akhirnya dilantik di gedung pertemuan Universitas Muhammadiyah Cirebon kampus Watubelah, Rabu (4/5). Dalam lima tahun ke depan (2015-2020), tiga belas pimpinan tersebut akan membawa gerbong Muhammadiyah tersebut dilantik oleh Ketua PWM Jawa Barat DR Zukarnaen. Sayang mantan ketua PP Muhammadiyah Prof DR H Din Syamsudin berhalangan hadir untuk memberikan spirit jiwa karena tengah berada di luar negeri. Satu pimpinan yakni Isa Ansori, S.Pd tidak ikut dilantik karena sedang dirawat di RS Tiar.

Nama-nama pimpinan Muhammadiyah kab. Cirebon yang dilantik sesuai perolehan ranking suara terbanyak antara lain :
  1. DR Ahmad Dahlan, M.Ag, (109), dosen, PDM
  2. DR. Amin Basir, (101), dosen, Pemuda Muhammadiyah
  3. Imam Syapi'I, (88), pensiunan PNS, PDM/PCM Losari
  4. Novan Hardiyanto, S.Pd.I.MM, (86), dosen, Pemuda Muhammadiyah
  5. Didin Abidin, SSi.,M.Sc Apt (82), guru, PCM Kedawung
  6. A. Mukti Usman, (77), pensiunan guru,  PCM Palimanan
  7. Dirja Supriatna, SPd. (77), guru, PDM/PCM Ciledug
  8. Drs Somantri Perbangkara, M.Pd.I. (77), dosen, PCM Kedawung
  9. Ahmad Hamdan, S.Ag. (70), karyawan swasta, PDM/PCM Sumber  
  10. Drs. Anas Ma'ruf, MM. (67), guru, PDM/Pemuda Muhammadiyah
  11. Suparya (67), wiraswasta, PCM Sumber
  12. Isa Ansori,S.Pd (65), pensiunan guru, PDM/PCM Lemahabang
  13. DR. Abdul Azis, M.Ag (55), dosen, PCM Kedawung

Tiga belas pimpinan tersebut merupakan hasil seleksi Muspimda dari 41 bakal calon formatur yang diajukan oleh PCM dan ortom pada Jumat 22 April 2016 usai sholat Jumat hingga pukul 17.00. Dua nama yang tersisih dalam bursa formatur muspimda adalah Muhammad Karya, SH.I (sekretaris PDM 2005-2010) dan Suganda Andriyani (PCM Babakan). Sementara 39 calon formatur yang melanggeng dalam pemilihan formatur pada Sabtu 23 April 2016 malam hingga pukul 01.00 dipilih 13 formatur. Dari tiga belas terpilih, empat pengurus PDM lama yang mencalonkan tersisihkan yaitu M. Karya (Sekretaris), KH R Noor Zein (Majelis Tarjih), Suherman (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) dan Chepy Rivai (Majelis Wakaf). 

Formasi kepengurusan PDM Kab Cirebon lima tahun ke depan diperkirakan akan lebih dinamis daripada periode sebelumnya. Factor ekonomi, pendidikan dan demografi ikut berpengaruh terhadap sikap, perilaku dan cara berfikir serta komunikasi kepengurusan baru mendatang. Dilihat factor ekonomi, banyak pengurus dari kaum intelektual, khususnya guru dan dosen. Sangat sedikit sekali pengurus berlatar belakang entrepreneur, sehingga pola kerja pengurus sekarang masih dipengaruhi mental birokrasi.

Namun di ranah konsep organisasi dan kegiatan diharapkan lebih terarah, terencana dan terukur karena secara pendidikan mereka sangat baik, rata-rata sarjana, magister bahkan doctor (S3). Kelemahan formasi kaum intelektual biasanya terjebak dalam wilayah konsep dan teori, tetapi melemah dalam tataran teknis action. Nah disinilah perlunya para pekerja teknis dijajaran fungsional majelis yang memiliki kompetensi dan teknisnya.

Dilihat dari usia dan polarisasi intelektual, kepengurusan kali ini boleh dibilang cabinet pelangi. Banyak kelompok muda, khususnya dari unsur Pemuda Muhammadiyah masuk dalam kepemimpinan PDM saat ini. Dinamika semakin kenceng karena mereka selama ini dikenal memiliki pola pikir progresif. Tidak sedikit pula setblack sebelumnya wajah-wajah personil PDM tersebut sering masuk wilayah perbedaan pendapat. Tentu perlu pola komunikasi yang elegan dalam menyampaikan ide dan gagasannya dengan kelompok senior.  

Dinamika organisasi tersebut akan bergerak progresif atau malah regresif bergantung bagaimana pola komunikasi, koordinasi dan kolaborasi yang dibangun dalam manajemen kolektif kolegial yang ada. Jika manajemen konsolidasinya baik maka potensi SDM pimpinan yang ada akan mampu menjadi kekuatan dalam memajukan dakwah Muhammadiyah. Tetapi sebaliknya jika terjadi mis komunikasi dan manajemen maka kepengurusan baru ini akan menjadi malapetaka bagi Muhammadiyah.

Melihat potensi super kepengurusan PDM baru ini maka diperlukan penataan dan penempatan yang sesuai, the right man and the right place. Penempatan ini tidak semata-mata pembagian kapling majelis “basah kering” atau penempatan berdasarkan perolehan ranking suara dalam musda. Namun disesuaikan dengan kompetensi masing-masing personil, minimal mampu dan mau dalam menata sisi manajemen masing-masing kemajelisan. Hal yang penting lagi, setiap majelis memiliki unsur kelengkapan personil yang mumpuni di bidangnya untuk melengkapi daya juang dakwah Muhammadiyah yang tepat dan cepat sasaran. Pasalnya tidak semua ketua majelis memiliki kompetensi relevan dengan latar belakang sosialnya.

Paling tidak jika diramu dalam formasi alternatif kepengurusan periode lima tahun ke depan bisa ditata sebagai berikut :

  1. Ketua                                       : Ahmad Dahlan
  2. Sekretaris                                : Novan / Anas Ma’ruf
  3. Bendahara                              : Ahmad Hamdan / Abdul Azis
  4. Majelis Tarjih                          : Isa Ansori / A. Mukti Usman
  5. Majelis Tabligh                       : Dirja Supriatna / Dindin Abidin
  6. Majelis Pustaka                       : Somantri Perbangkara / Suparya
  7. Majelis Dikdasmen                 : Amin Basir / Isa Ansori/Somantri/Abdul Azis
  8. Majelis Pendidikan Kader       : Amin Basir / Novan/Anas Ma'ruf
  9. Majelis Wakaf                         : A. Mukti Usman / Iman Syapi’i
  10. Majelis Kesehatan                  : Didin Abidin / Somantri Perbangkara
  11. Majelis Ekonomi                     : Imam Syapi’i / Abdul Azis
  12. Majelis Hukum dan HAM       : Anar Ma’ruf / Novan
  13. Majelis Pemberdayaan Masy.  : Suparya / Ahmad Hamdan  


MEMILIH FORMATUR
Tentu harus diakui dalam memilih calon formatur saat musyda berlangsung perlu ada catatan khusus. Catatan ini sangat penting untuk peningkatan mutu dakwah Muhammadiyah ke depan. Untuk kepengurusan Muhammadiyah kab. Cirebon yang memiliki banyak amal usaha rasanya pemikiran bahwa kita tidak perlu mempersoalkan kualitas formatur sangat tidak sejalan dengan visi Muhammadiyah berkemajuan. Terlebih kepengurusan ini untuk level daerah, dimana perlu ide dan pemikiran yang mencerahkan bagi kemajuan dakwah Muhammadiyah di semua bidang kehidupan.

Namun tidak bagus pula jika orang-orang terbaik di level cabang dan ranting harus tersedot ke Tuparev semua. Justeru garda paling depan dakwah persyarikatan bertumpu di cabang kecamatan dan ranting desa yang langsung menyentuh di kalangan grass rote. Disinilah perlunya pemetaan SDM Muhammadiyah yang ada, mulai di jajaran pengurus cabang dan ranting hingga dosen, guru dan karyawan di Muhammadiyah. Tujuannya untuk memilah SDM sesuai kebutuhan gerak organisasi yang lebih berdaya guna.

Untuk memilih calon pengurus yang kapabel dari awal panitia pemilihan (panlih) sebaiknya mensosialisasikan curriculum vitae bakal calon formatur. Identitas balon seperti nama, pendidikan, pekerjaan, pengalaman organisasi di dalam dan luar Muhammadiyah, prestasi yang pernah diraih, karya yang pernah dibuat akan menjadi rekam jejak untuk dikenal oleh pemilih. Waktu ta’aruf tersebut dilakukan sebelum pelaksanaan musda berlangsung, sehingga masing-masing calon pemilih tahu siapa, apa, bagaimana dan dari mana mereka yang akan dipilih.

Akan lebih afdol lagi jika para balon diberikan kesempatan menyampaikan gagasan dan pemikirannya tentang kemajuan Muhammadiyah ke depan. Gagasan tersebut dituangkan dalam makalah sederhana dan disampaikan ke public melalui media publikasi panitia ke cabang, ranting dan ortom. Jika memungkinkan waktunya, para balon tersebut bisa memberikan paparan singkat secara lisan di depan musyawirin. Hal ini perlu untuk menghindari plagiat penulisan makalah gagasan tersebut. Jika calon pengurus belum tahu ide dan gagasan sendiri tentang kemajuan Muhammadiyah ke depan, lalu apa yang mereka bisa lakukan untuk Muhammadiyah?

Dari uraian di atas ada beberapa pertimbangan dalam memilih calon formatur :
  1. Pastikan komitmen dan loyalitas keagamaanya
  2. Kenali curriculum vitae calon
  3. Pelajari ide dan gagasannya tentang Muhammadiyah
  4. Telusuri prestasi kinerjanya selama di Muhammadiyah
  5. Pertimbangkan keterwakilan cabang dan ortom

Jika paling tidak lima point di atas menjadi bahan pertimbangan musyawirin dalam memilih tiga belas formatur, maka proses pemilihan tidak memunculkan aroma bernuansa politis dalam memilik calon formatur. Tetapi lebih kepada dilandasi karena kompetensi, komitmen dan representative cabang dan ortom. Harapannya agar semua pihak di internal merasa memiliki dan mau memajukan Muhammadiyah. Dengan catatan kebijakan dan program kerja masa lalu harus mendapatkan apresiasi, evaluasi dan kritik kepantasan demi kualitas dakwah Muhammadiyah ke depan. Maka sewajarnya semua itu harus melalui proses assessment yang memadai. Dengan kata lain, seyogyanya laporang pertanggung jawaban pengurus lama sudah dibaca, dipelajari dan dipahami oleh musyawirin lalu menjadi pandangan umum saat musda tiba. Wallahu’alam. (*)