SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

April 26, 2016

MERINDUKAN CIREBON KOTA PELAJAR

Oleh :
Deny Rochman, S.Sos., M.Pd.I


Gerakan literasi akan merambah ke kota Cirebon. Rencananya Walikota Cirebon Drs Nasrudin Azis, SH akan mendeklarasikan gerakan literasi berbarengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 ini. Bahkan di depan guru-guru penggiat literasi saat audiensi belum lama ini, pihaknya berkomitmen menyukseskan program mencerdaskan anak bangsa dengan menganggarkan dalam APBD.

Kendati kota Cirebon bukan kota pertama dalam membudayakan literasi. Pemerintah melalui Mendikbud Anis Baswedan telah melaunching program literasi pada 18 Agustus 2015 di Jakarta. Program tersebut seiring dikeluarkannya Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Tujuannya untuk membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.

Di tingkat Jawa Barat, gerakan literasi sudah digagas lebih awal tahun 2014. Program diberi nama West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) dipelopori guru-guru alumni Adelaide Australia. Tiga sekolah di Kota Cirebon, SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 dan SD Negeri Kalijaga, adalah sekolah-sekolah pilot project dari program adopsi dari negara kanguru tersebut.

Jika rencana itu terwujud ada sebuah harapan besar mutu pendidikan kota Cirebon akan membaik. Pada gilirannya nanti sumber daya manusia kota ini kian berkualitas. Sebuah mimpi lama untuk mendongkrak ranking bangsa ini yang tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain. Data hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 misalnya, 65 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan ke-64.

Kota Cirebon sebagai bagian dari bangsa Indonesia menunjukkan fenomena rendahnya budaya literasi di kalangan masyarakat. Kondisi ini karena sejak lama bangsa ini terbiasa sebagai bangsa pendongeng, cerita dan mendengarkan. Sementara budaya membaca dan menulis jauh dari kebiasaan masyarakat kita. Terperparah lagi realitas kekinian perkembangan teknologi gadget, program televisi, computer, handphone berbasis internet melumpuhkan day abaca dan menulis generasi usia sekolah.

KOTA PELAJAR
Gerakan literasi jika dilakukan secara massif dan sistematis bukan tidak mungkin kota Cirebon akan menjadi kota pelajar. Terlebih master plan Pemprov Jawa Barat menjadikan Kota Cirebon sebagai kota Metropolitan sesuai Perda Nomor 12 Tahun 2014. Sebuah kota dengan mobilitas sosial, pertumbuhan ekonomi dan dinamika penduduknya yang tinggi.

Ketika Cirebon sebagai kota Metropolitan maka kota ini akan menjadi kota kunjungan dari luar, termasuk bangsa asing. Baik kunjungan untuk keperluan usaha bisnis, kedinasan maupun untuk menimba ilmu bagi pelajar dan mahasiswa. Salah satu indikator bagi sebuah kota berpredikat kota pelajar.

Memang jika dibandingkan Yogyakarta, secara kuantitas dan kualitas pendidikan di kota Cirebon berbeda jauh untuk disebut sebagai kota pelajar yang memiliki banyak sekolah dan perguruan tinggi dan tingkat kualitas lulusannya jempolan. Tetapi potensi infratruktur, budaya, SDM, ekonomi, yang dimiliki kota Cirebon sangat mungkin kota ini menjadi kota pelajar, seperti kota-kota lainnya yang kualitas pendidikannya lebih baik.
  
Dari tahun ke tahun jumlah sekolah dan perguruan tinggi di kota Cirebon terus bertambah, apalagi di era otonomi daerah. Sekalipun perguruan tinggi negeri boleh dibilang sangat minim di kota ini, sehingga Pemerintah Jawa Barat berencana membangun PTN di Cirebon. Universitas Swadaya Gunung Jati yang digadang-gadang akan beralih status kenegerian, pada akhirnya belum terwujud hingga kini.

Seperti Yogyakarta, kota Cirebon juga memiliki indicator banyak memiliki kaum intelektual, seniman dan budayawan. Sayangnya mereka banyak bertebaran ke sejumlah kota di Indonesia bahkan di luar negeri. Potensi budaya Cirebon dengan beragam keunikannya akan menjadi magnet orang luar untuk datang ke kota Cirebon, termasuk pelajar dan mahasiswanya untuk bersekolah dan kuliah.

TANTANGAN
Gerakan literasi yang dicanangkan Walikota pada 2 Mei mendatang harus menjadi momentum kebangkitan pendidikan di kota Cirebon. Keberhasilan gerakan kultural tersebut harus mendapat dukungan luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Semua pihak melakukan sinergitas terhadap program tersebut, mulai sekolah, keluarga, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha dan tokoh masyarakat disemua bidang.

Menjadikan Cirebon sebagai kota pelajar harus memberikan ruang seluas-luasnya terhadap pengembangan budaya literasi atau intellectual habit. Seperti terdapat perpustakaan yang lengkap, nyaman dan aman, maraknya forum-forum ilmiah, bermunculan took-toko buku, membudayanya menulis gagasan, tersedianya buku-buku bacaan ditempat-tempat umum dan tempat tunggu, serta mengurangi sarana televisi.

Membiasakan membaca dan menulis ala gerakan literasi sejak dini akan menciptakan kualitas lulusan sekolah dan perguruan tinggi di kota ini. Anak ditarget untuk membaca buku dalam waktu tertentu, kemudian isi buku yang mereka baca diulas kembali dalam bentuk tulisan. Mereka yang berhasil mencapai target akan diberikan reward sehingga membangkitkan motivasi literasi bagi anak.

Peran orang tua dan guru dalam gerakan ini menjadi penting. Tidak mungkin anak akan keranjingan membaca dan menulis jika orangtuanya tidak mendukung penuh dari sisi pengawasan, dorongan dan pengadaan buku-buku bacaan di rumah. Begitu juga dengan guru-gurunya, jika mereka tidak cinta ilmu, malas baca, tidak mau menulis sangat mustahil gerakan literasi terwujud.

Maka kewajiban guru melakukan penelitian tindakan kelas, mengikuti seminar, workshop, pelatihan dan lainnya, menulis karya ilmiah popular adalah sebuah proses pembelajaran dalam mendukung program literasi.

Pada sisi kebijakan, Pemerintah dan Dinas Pendidikan memberikan anggaran khusus pelaksanaan program literasi tersebut. Guru-guru pendamping diberikan bimbingan teknis pelaksanaan program, diberikan teknik membaca cepat dan teknik menulis. Memperbaiki sarana perpustakaan sekolah-sekolah hingga menggelar berbagai lomba dan reward siswa berprestasi di bidang literasi.

Pemerintah mulai kembali menata sistem pendidikan di kota Cirebon dengan baik. Seperti penataan pola rekuitmen kepala dinas, kepala sekolah dan guru. Mekanisme regulasi penerimaan siswa baru sesuai aturan. Memudahkan akses pendaftaran siswa baru berprestasi dari luar kota. Meringankan biaya pendidikan dan biaya hidup di kota Cirebon. Mengirimkan putera puteri terbaik daerah dikuliahkan di dalam atau pun luar negeri. Semoga! (*)

*) Penulis adalah penggiat gerakan literasi kota Cirebon