SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

April 26, 2016

MENANTI KINERJA PERIODE PENYEMPURNA: Catatan Refleksi Musyda PDM Kab. Cirebon 2016 (part-2)

PANITIA TERJEBAK FORMALITAS MEMBELENGGU

Pelaksanaan Musyda PDM kab. Cirebon ke-2 sempat dibuat memanas oleh salah satu peserta pada tahap pemilihan calon formatur Sabtu malam. Suganda, musyawirin utusan PCM Babakan sebelum pemilihan berlangsung mengusulkan agar seluruh calon formatur pimpinan untuk bisa hadir mengikuti jalannya pemilihan. Namun usulan tersebut dianulir oleh forum karena alasannya tata tertib pemilihan sudah diketok palu dalam sidang pleno sebelumnya.

Protes salah satu musyawirin tersebut, merupakan satu dari banyak catatan yang perlu menjadi bahan evaluasi untuk pembenahan pelaksanaan Musyda periode berikutnya. Jika evaluasi itu menyangkut kebijakan panitia local maka perbaikan itu harus dilakukan dari sisi kebijakan PDM setempat. Namun jika sisi kelemahan itu ada pada AD/ART Muhammadiyah, maka perbaikan itu ada di ranah Pimpinan Pusat melalui ajang Muktamar Muhammadiyah.


Upaya evaluasi dan perbaikan tersebut masih dalam konteks bermuhammadiyah berkemajuan, tidak terjebak dalam formalitas yang membelenggu, sesuai spirit yang diusung organisasi Islam selama ini. Beberapa catatan selama Musyda PDM Kab. Cirebon tahun 2016 ini antara lain :

  1. Kepanitiaan
Pertama, dari sisi kepanitiaan memiliki jumlah personil hampir 100 orang dari beragam unsur, mulai pengurus PDM, staf pembantu majelis, ortom dan dari kalangan amal usaha, baik pimpinan, maupun dosen, guru dan karyawan. Jumlah kepanitiaan yang banyak tersebut cukup membuat repot koordinasi lintas seksi, terbukti dalam setiap rapat yang digelar tingkat kehadiran panitia kisaran diangka  30 persen.

Akibat kurangnya koordinasi di level seksi-seksi boleh jadi disebabkan dalam proses penunjukkan kepanitiaan belum melalui proses konfirmasi kepada nama-nama yang tercantum (main tunjuk). Kondisi ini membuat nama panitia yang bersangkutan bisa tidak tahu kalau dia menjadi panitia atau dia tidak bersedia dengan beragam alasan. Factor ini tentu saja akan berdampak pada kinerja kepanitiaan secara keseluruhan. Dari rapat ke rapat, agenda pembahasan kegiatan Musyda tidak langsung mengkrucut dan terarah kepada satu kesepakatan agenda.

Hingga rapat terakhir di SMK Muhammadiyah Budi Tresna Watu Belah masih terlihat persiapan kepanitiaan belum 100% fix. Diperparah lagi koordinasi lintas seksi di kepanitiaan belum berjalan sesuai yang diharapkan. Satu seksi dengan seksi lainnya belum memahami secara detail sinkronisasi kepanitia masing-masing seksi. Sebuah kerja yang mengkhawatirkan dalam kegiatan besar tingkat sekabupaten.

Koordinasi yang belum klik tersebut berdampak pada kinerja teknis panitia di lapangan. Saat pelaksanaan pawai ta’aruf misalnya, kegiatan yang dijadwalkan pukul 07.30 sudah dimulai namun hingga pukul 08.00 seluruh peserta belum juga dilepas oleh panitia. Penyebabnya adalah, masih ada peserta pawai khususnya sekolah-sekolah yang jauh seperti Lemabahang, Gebang dan Ciledug belum hadir.

Penyebab lainnya, pasukan marching band dari SMA Muhammadiyah Kedawung terlambat datang. Mereka masih dalam perjalanan mengawal rombongan guru dan karyawan setempat yang konvoi naik motor dari komplek Tuparev ke Stadion Rangga Jati Sumber. Padahal pasukan marching ini merupakan pasukan inti dalam mengawal pawai taa’tuf.

Dari sisi keamanan, personil yang bertanggung jawab yakni ortom Tapak Suci dan Hizbul Wathan hingga rapat terakhir panitia belum mendapatkan denah tertulis lokasi dan agenda kegiatan rangkaian musda. Hal ini cukup menyulitkan petugas dalam mengurai pembagian tugas di masing-masing titik rawan keamanan.

Seksi konsumsi untuk makan minum peserta Musyda pun sempat keteteran. Paling tidak terjadi pada Jumat malam snack yang disiapkan untuk siswa atraksi yang tengah gladik resik kabarnya ada pihak yang mengambil tanpa koordinasi. Belum lagi makan malam yang disiapkan panitia tidak bisa dimanfaatkan oleh peserta karena sejak sebelum magrib acara sidang sudah ditutup dan banyak peserta memilih pulang ke rumah daripada memilih menginap di UMC.

Keadaan yang cukup panic bagi panitia konsumsi adalah saat usai acara pembukaan Musyda. Diluar prediksi persediaan makan minum dari RM Echo tidak berbanding dengan jumlah peserta yang makan. Akibatnya banyak peserta yang kehabisan santap siang dan memilih pulang atau beli diluar. Diduga penyebabnya, mereka yang makan tidak saja hanya peserta musda tetapi juga undangan yang hadir upacara pembukaan.

Kurangnya koordinasi lintas panitia, berdampak pada tingkat kehadiran peserta musda yang tidak serius mengikuti. Hal sangat terasa saat dua acara besar, Launching Islamic Mind pada Selasa 19 April dan Pembukaan Musyda Sabtu 23 April 2016. Di dua acara tersebut kepadatan peserta di dalam ruang hall berkurang. Masing-masing peserta hilir mudik keluar masuk gedung tidak ada yang mengontrol atau menghalangi sehingga kursi banyak yang kosong.

Buruknya kualitas suara sound system di tempat sidang utama convention hall membuat jalannya sidang, khususnya saat sidang pertama membahas tata tertib musyda dan pemilihan calon formatur. Akibatnya banyak pasal-pasal penting yang harus dicermati tidak bisa disikapi dari awal. Suara pimpinan sidang tidak bisa didengar dengan baik oleh peserta musyawirin.

Protes salah satu peserta tentang kehadiran calon formatur salah satunya efek dari buruknya kualitas suara sound system. Beruntung sidang berikutnya dialihkan ke ruang kelas SMKM Budi Tresna. Buruknya kualitas suara sound tersebut disebabkan karena kekuatan suara sound tidak seimbang dengan kondisi gedung hall yang besar dan banyak celah lubang di atap gedung sehingga suaranya menggema.

  1. Agenda Kegiatan
Beberapa pembenahan juga harus dilakukan dalam merumuskan dan merancang agenda kegiatan. Misalnya agenda launching produk Islamic Mind pada Selasa 19 April 2016 yang terlihat kurang maksimal. Memang perumusan launching ini tidak dibahas terbuka dalam rapat panitia musda. Karena kebijakan PDM membentuk tim kecil dalam menggarap persiapan launching.

Namun sayangnya, hingga rapat terakhir panitia konsep produk sendiri belum diketahui panitia musda. Koreksi penyempurnaan malah masih disampaikan oleh Arif, salah satu anggota Majelis Tarjih yang diminta melakukan koreksi terhadap konten dari aplikasi berbasis android tersebut. Padahal melaunching produk sama halnya seperti melahirkan seorang anak. Membutuhkan persiapan yang matang dalam proses produksi dan perluncurannya, karena itu akan berdampak pada kesehatan produk jangka panjang.

Jadwal kegiatan yang dipadatkan berdampak pada kualitas acara yang terkesan asal jalan, asal selesai. Misalnya dalam penyampaian pandangan umum dan tanggapan cabang dan ortom dalam menanggapi laporan pertanggung jawaban pengurus lama. Waktu yang diberikan lima menit terasa sangat sangat kurang untuk menilai LPJ pengurus selama lima tahun. Seakan satu tahun membutuhkan satu menit dalam menilai sehingga proses evaluasi tidak maksimal.

Dalam menyampaikan pandangan umum mestinya cabang dan ortom sudah menerima buku LPJ beberapa hari sebelumnya untuk dipelajari. Paling tidak sehari sebelum musda sudah bisa diterima peserta. Sehingga pandangan umum yang disampaikan bisa mengupas point point penting dan sistematis terhadap LPJ yang ada.

Jadwal kegiatan yang tidak menyatu, antara launching aplikasi dan musda berpengaruh kepada animo warga Muhammadiyah untuk mengikutinya. Guru dan karyawan yang tersebar di AUM dengan dua acara berbeda waktu cukup menguras anggaran sekolah yang hingga banyak dikeluhnya untuk biaya akomodasi dan transportasi dalam dua hari tersebut.

Terlebih pada pelaksanaan Musda, jumlah kursi kosong terlihat banyak di dalam gedung pembukaan. Padahal pagi harinya jumlah warga Muhammadiyah yang mengikuti pawai ta’aruf jumlahnya berjibun. Bisa jadi karena alasan lelah, panas dan ngantuk mereka memilih tidak masuk ke dalam gedung untuk mengikuti acara pembukaan musda.

Kekosongan peserta musda, diperburuk lagi dengan ketiadaan panitia dalam melakukan penjagaan pintu keluar masuk, sehingga peserta seenaknya keluar pada saat kegiatan masih berlangsung. Diperparah dengan susunan acara sambutan dari berbagai pihak yang berjalan lama sehingga membuat jenuh peserta dan undangan.

Kekosongan peserta tersebut berdampak kurang meriahnya acara hiburan diujung pembukaan. Ada tari topeng dan atraksi pencak silat Tapak Suci berlangsung dengan sepi penonton, kendati sudah menghabiskan tidak sedikit uang dalam proses latihannya.

Pemadatan acara yang seyogyanya sampai hari Ahad, berdampak kepada pelaksanaan Bazar dan pameran. Jadwal Musda seyogyanya mulai Sabtu Ahad siang, bisa dipadatkan seharian dari Sabtu siang hingga acara penutupan Ahad dini hari pukul 01.00. Padahal keesokan harinya masih ada jadwal Bazar dan sebagian peserta belum tahu jika Ahad pagi acara Musda sudah selesai.

Hal yang mengherankan dalam acara pembukaan ketiadaan bupati Cirebon sebagai pejabat daerah. Hal itu terjadi untuk ketiga kalinya setelah sebelumnya di undang hadir dalam ketika PDM audiensi jelang Muktamar di Makasar, peluncuran Islamic Mind dan terakhir pembukaan Musda. Belum jelas betul penyebab ketidakhadiran bupati, apakah memang berbenturan dengan acara lain atau apakah tidak mau hadir di acara Muhammadiyah. Atau mungkin panitia yang tidak menyampaikan undangan untuk bupati tidak tepat cara dan waktunya. (*)

....Bersambung: KABINET PERIODE SINTESA