SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Agustus 21, 2016

MENJAGA API LITERASI

Oleh :
Deny Rochman

Gerakan literasi sekolah itu bagaikan api. Api itu akan menjadi berkah atau musibah bergantung dari bagaimana para stakeholder di dalamnya memanfaatkan api tersebut. Jika api kecil tersebut dibiarkan di satu tempat, maka perlahan ia akan padam. Jika api itu membesar di satu titik, maka ia akan membakar semua orang di sekitarnya. Api akan bermanfaat bagi kehidupan manakala api kecil itu kian membesar dan dijaga dengan baik lalu menyebar ke segala arah akan mampu menerangi seluruh alam.

Semangat api literasi itu sudah dinyalakan sejak program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) digulirkan pemerintah tahun 2015. Di Jawa Barat, program serupa berpayung hukum Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tersebut mulai berjalan massif pada tahun 2016 melalui program West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC). Program literasi yang dirintis sejak tahun 2012 oleh para guru alumni pelatihan di Adelaide Australia.

Pemerintah Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan secara marathon menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam mengawal GLS di Jawa Barat. Tidak kurang dari 300 guru penggerak disiapkan dari masing-masing daerah. Sebanyak 2.600 peserta dari 600 SD dan 700 SMP dilibatkan sebagai sekolah perintis GLS di masing-masing sekolah. Mereka terdiri dari guru dan kepala sekolah yang diundang dalam workshop literasi dalam 26 angkatan secara bertahap dari 27 Juli – 20 Agustus 2016. Kegiatan workshop menyebar di enam daerah seperti Bandung, Cianjur, Cirebon, Kuningan, Garut dan Pangandaran.

Memang jumlah sekolah yang dilibatkan masih kecil dibandingkan jumlah sekolah SD dan SMP di Jawa Barat. Berdasarkan pernyataan Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Jawa Barat, jumlah SD di wilayahnya mencapai 20 ribu sekolah, sementara jumlah SMP sebanyak 5000 sekolah.  Sekalipun realif kecil namun jumlah 2.600 peserta didukung kekuatan 300 guru penggerak dan 29 fasilitator atau nara sumber yang ada, kekuatan itu sudah cukup bagus sebagai kader literasi asalkan mereka berjiwa militant.

Sesuai planning, Dinas Pendidikan Jawa Barat akan menargetkan penyebaran “virus literasi” ke penjuru sekolah di wilayahnya hingga tahun 2020. Namun lagi-lagi hingga tahun tersebut diperkirakan tidak semua sekolah akan tersentuh program yang diharapkan Kadisdik DR Asep Hilman, M.Pd terjangkit “Sakaw Literasi”. Selain timing yang pendek, juga terbatasnya jumlah anggaran untuk mengcover seluruh sekolah di Jawa Barat.

Di tengah keterbatasan yang ada, maka diperlukan strategi yang jitu dalam menggoalkan program literasi di sekolah-sekolah. Semangat api literasi yang dinyalakan oleh para fasilitator atau nara sumber selama workshop bagaimana bisa secara konsisten berkelanjutan sehingga mampu melahirkan gelombang tsunami literasi, meminjam istilah baru Kadisdik Jawa Barat. Paling tidak ada lima factor dalam mendukung strategi pencapaian gerakan literasi sekolah.

Factor yang mendukung strategi pencapaian GLS melalui program WJLRC antara lain komitmen (commitment), kompetensi (competency), komunikasi (communication), kerja tim (team work)dan pengawasan (control). Apabila factor-faktor tersebut tidak berjalan beriringan akan berdampak kurang maksimalnya pencapaian tujuan men-sakaw-kan literasi di Jawa Barat.

Komitmen itu adalah sebuah janji bagi pelakunya dalam melakukan tindakan yang nyata dalam mendukung suksesnya program literasi. Kompetensi menjadi bagi penting berikutnya, karena sebuah kerjaan jika ditangani oleh bukan ahlinya akan berujung pada kehancuran. Nah untuk menjaga komitmen dan komunikasi tersebut, pemanfaatan media seperti telepon, SMS, media sosial menjadi kebutuhan untuk menjaga semangat api literasi.

Faktor diatas bisa dilakukan apabila sudah terbentuk team work yang solid. Dengan kerja tim maka akan terbentuk pembagian kerja yang merata, satu dengan yang lainnya bertanggung jawab dan merasa memiliki program. Proses itu akan diperkuat dengan tahapan kontroling atau pengawasan berupa monitoring dan evaluasi (monev) agar dinamika organisasi masih berjalan di rel yang sesuai dalam mencapai tujuan bersama.

Dengan kekuatan komunikasi dan informasi baik langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (media perantara) akan menjaga semangat literasi terus menyala. Salam literasi…. (*)

*) Penulis adalah pegiat literasi asal kota Cirebon