SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Juli 17, 2016

TEKNIK MENYUNTING TULISAN

Oleh :
Deny Rochman

Sebuah tulisan yang hidup dan enak dibaca membutuhkan proses dalam produksinya. Proses tersebut lazim biasa disebut penyutingan (editing). Menyunting adalah suatu kegiatan mengedit, mengubah, atau merapikan susunan letak (struktur) atau penggunaan bahasa sebuah naskah tanpa mengubah makna sebelum tulisan itu dinikmati khalayak. Publik yang membaca tulisan tersebut merasa nyaman dan enak menatap deretan kata dan kalimat.

Penyuntingan naskah dilakukan dengan tujuan : (a) Meringkas atau melengkapi, atau menambahi; (b) Menjaga terjadinya kesalahan bahasa seperti ejaan, tata bahasa; (c) Mengubah struktur yakni pilihan fakta yang ‘dipentingkan’ pilihan lead (teras berita), bentuk ending dan lainnya misalnya dalam berita fakta konflik, redaktur menghendaki lead yang bernuansa damai; (d) Mencegah kesalahan isi biasanya masuknya opini pribadi penulis, terutama dalam berita konflik. Disinilah menunjukkan bahwa tugas dan tanggung jawab seorang penyunting berita tidaklah mudah. Satu hal yang tidak boleh dilakukan penyunting adalah  merusak hasil karya penulis sehingga yang harus dia lakukan adalah  memperbaiki dan menyempurnakan. 

Dalam melakukan kerja penyutingan, paling tidak ada tiga fokus yang menjadi perhatian yakni judul, teras berita (lead) dan isi berita/tulisan.

  1. Judul Tulisan
Judul tulisan dalam karya jurnalistik sangatlah penting, karena judul merupakan pintu masuk pembaca dalam membuka tulisan. Pemilihan kata yang baik dan menarik satu hal yang harus dilakukan penyuting. Department of Mass Communication University of North Carolina dalam How to Write a Headline mengingatkan bahwa aturan terpenting judul harus benar-benar akurat dan mencerminkan isi berita. Akurasi adalah segalanya. Jangan menipu pembaca dengan judul yang berbeda dengan isi berita!

Judul juga bisa diambil dari teras berita (lead) bagian paragraf pertama dalam tulisan. Untuk kasus judul karya tulis ilmiah populer, judul lazim diambil dari intisari pokok permasalahan yang dikaji oleh penulis. Ada karakteristik judul berita yang harus diperhatikan oleh penyuting, yaitu :
a. Judul berita adalah kalimat abstrak
b. Biasanya hanya terdiri dari 5-10 kata
c. Berupa pemikiran/gagasan lengkap
d. Terdiri dari subjek dan kata kerja (predikat) dan sering juga dilengkapi objek

Saat membuat judul, tanyalah diri paa sendiri dan jawablah : "Jika pembaca melihat 5-10 kata yang saya tuliskan, apakah mereka akan tahu ini berita tentang apa?"

Untuk membuat judul tulisan maka yang harus dilakukan sebelum membuat judul adalah :
a.    Baca dan pahami berita secara menyeluruh sebelum menuliskan judulnya.
b.    Buatlah judul berdasarkan "main idea" (inti berita) yang mestinya ada di alinea pertama, awal naskah, atau bagian introduksi (lead/teras).
c.   Jangan gunakan dalam judul fakta-fakta yang tidak ada di naskah berita. (Judul harus mencerminkan isi).
d.    Jangan mengulang kata yang sama dalam judul.
e. Jika beritanya berupa berita opini, maka judulnya pun harus sudah mencerminkan hal itu.
f.   Hindari ambiguitas, makna ganda, menimbulkan tafsiran beragam, dan bernada menuduh.
g.    Pilihan kata yang spesifik, akurat, jelas, dan ringkas!
h.    Jangan mengulang kata kunci (keywords) di judul yang sama.
i.      Hindari nama, frasa, dan singkatan yang samar atau tidak diketahui.
j.      Hindari judul yang bernada menyerang, mengecam, atau mempersalahkan.
k.    Tidak ada judul yang dimulai dengan kata kerja.
l.      Judul berupa kalimat lengkap --minimal subjek dan predikat.

Pentingnya judul dalam sebuah tulisan tidak hanya dikenal dalam dunia pemberitaan konvensional media massa cetak. Dalam media dot com atau online, pemilihan judul berita menentukan banyak tidaknya pembaca yang membuka tulisan website kita, selain strategi lain yang bisa dilakukan dalam menjaring pembaca. Dalam tulisan web, kinerja mesin pencarian (search engine) menjadi salah satu parameter utama populeritas berita web kita. Jadi, judul berita di media online hendaknya menarik, namun juga memperhatikan teknik SEO (Search Engine Optimization) agar berita diindeks oleh mesin pencari dan mudah ditemukan pembaca di halaman hasil pencarian.

Melihat peran judul sangat strategis sebagai alat jualan berita, sehingga banyak perusahaan media online mengemas tampilan webnya dengan banyak judul bertebaran di setiap sudut halaman depannya. Sementara tulisan selengkapnya disembunyikan dan akan muncul ketika dipanggil, klik ! Namun kendati judul penting tidak kemudian kita terseret praktek jebakan klik dengan membuat judul yang sensasional dan bombastis, bahkan hingga berbohong.

Jebakan klik yakni adalah link (tautan) yang menarik perhatian mata (eyecatching link) di website yang mendorong orang untuk mengklik dan membacanya. Jebakan klik ini lazim dilakukan adsense (iklan online) yang didasarkan pada jumlah klik dan pageviews. Jika kebablasan hal ini akan membuat pembaca bosan bahkan merasa dibohongi.

Tips dan teknik pemilihan judul berita ini berlaku juga dalam melakukan penyutingan judul karya ilmiah populer (artikel). Berbeda dengan penulisan karya ilmiah akademik harus memiliki kriteria dan standarisasi penulisan tersendiri.

2. Teras Berita (Lead)
Setelah judul, teras berita (lead) merupakan alat penggoda berikutnya agar mata pembaca tidak pindah ke lain obyek. Pentingnya teras berita dalam memikat pembaca harus menjadi perhatian bagi penyunting tulisan. Jika naskah awal tulisan teras beritanya belum menjual, menarik atau memikat untuk dibaca, maka tugas editor dalam memperbaiki dan menghaluskan bahan naskah tulisan.
    
Teras berita berada pada posisi paragraf pertama tulisan. Dalam berita langsung (straight news), pola penulisan lead dengan rumusan 5 W + 1 H (what, who, when, where, why dan how). Rumusan lead tersebut bisa dikembangkan dalam dua model penulisan teras berita yakni dari awalan siapa (who) dan apa (what). Who menunjuk kepada subyek yang terlibat dari peristiwa tersebut. Lead who biasanya digunakan karena pentingnya subyek tersebut dalam pemberitaannya. Sedangkan model lead what lebih berpaku pada apa peristiwa yang terjadi.    Pola rumusannya bisa divariasikan sebagai berikut :

1. untuk teras berita Who :
   a. who, what, when, where
   b. who, what, when
   c. who, what, where
2. untuk teras berita What :
   a. what, who, where, when
   b. what, who, where
   c. what, who, when

Proses penyutingan berita dengan pendekatan lead ini lebih mudah dan sederhana. Struktur tulisannya seperti piramida terbalik, semakin ke bawah tulisannya semakin tidak penting dan atau menarik. Perhatikan gambar dibawah ini :








Pola ini perlu diperhatlkan karena karya jurnalistik selain menarik juga harus segera disampaikan dan cepat dibaca. Keuntugan pola penulisan ini jika pembaca tidak cukup waktu untuk membaca maka cukup singkat baca leadnya saja.

Proses penyutingan juga bisa dengan pendekatan feature atau tulisan khas diluar berita yang bersifat menghibur, mendidik, memberi informasi dan sebagainya mengenai aspek kehidupan. Berbeda dengan piramida terbalik berita langsung, tulisan khas feature berbentuk piramida normal atau cembung. Sejak awal penggunaan bahasa harus menarik perhatian pembaca. Disini perlunya seorang editor menguasai pemilihan lead yang berkekuatan hypnotic-writing, menyihir pembacanya. Hypnotic-writing mengandung makna tulisan kita mampu memikat, menyihir dan menarik perhatian pembacanya. Perhatikan gambar dibawah ini model piramida penulisan feature :



Tulisan yang menyihir tidak jauh memperhatikan empat unsur perhatian manusia, yakni : human interest, drama, keanehan/unik, dan efek terhadap pembaca. Sekalipun jenis tulisan ini relatif lebih panjang daripada berita langsung, namun tidak memperhatikan ekonomis kata dan kalimat, tidak bertele-tele. Beberapa lead yang bisa menjadi pilihan dan inspitasi dalam penyutingan seperti :

a.    Lead ringkasan
Teras tulisan ini sama dipakai dalam penulisan berita langsung (straight news atau hard news) berupa ringkasan isi tulisan seperti dalam rumusan 5 W + 1 H. Lead ini bisa digunakan ketika wartawan dikejar deadline.

Contoh :
Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot isteri, ya bikin melotot suami (Tempo 1 Januari 1994)

b.    Lead bercerita
Lead jenis ini biasanya disukai oleh penulis fiksi atau novel. Menulis lead menarik dengan menyuguhkan suasana peristiwa yang terjadi. Lead ini biasa digunakan pada tulisan perjalanan atau pertualangan wartawan ke sebuah lokasi.

Contoh :
Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantung setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik Muslim… (Tempo, 27 Maret 1993)

c.    Lead deskriptif
Lead ini biasa digunakan untuk menulis profil pribadi karena lead untuk gambaran tokoh atau tempat kejadian.

Contoh:
Wajah Syaiful Rozi sama sekali tidak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan dan ramah. (Tempo, 28 Agustus 1993)

d.    Lead kutipan
Kutipan pernyataan nara sumber bisa menjadi lead yang menarik. Terlebih kutipan itu dari pernyataan orang yang terkenal.

Contoh :
“Tangkap hidup atau mati.” Tegas Kapolri Letjen Banurusman. (Tempo, 29 Januari 1994)

e.    Lead pertanyaan
Lead ini efektif bila berhasil bila berhasil menantang atau rasa ingin tahu pembaca.

Contoh:
Apa yang membuat sekelompok orang ngotot, menolak pindah rumah ke tempat lain walau rumah sekarang sering kebanjiran?

f.     Lead menuding langsung
Lead ini memakai kata “Anda” dalam kalimatnya.

Contohnya:
Bila Anda punya nama Kodian, harap hati-hati. Salah-salah Anda akan kenal cekal. (Tempo, 30 Januari 1993).

g.    Lead menggoda
Lead ini untuk mengelabui pembaca dengan cara bergaurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar mau membaca tulisan sampai akhir.

Contoh :
Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50 (Tempo, 4 Januari 1992)

h.    Lead nyentrik
Lead jenis ini lebih kepada tulisan imajinatif dan menggunakan majas gaya bahasa.

Contohnya :
Hijau sanyuran
Putihlah susu
Naik harga makanan
Ke langit biru

Tulisan diatas lead untuk menggambarkan kenaikan harga sembako.

i.      Lead gabungan
Lead ini menggunakan gabungan, misalnya, antara lead kutipan dengan lead deskriptif.

Contoh :
“Bukan salahku jika aku sekarang belum mati,” kata Fidel Castro dengan senyum lucu. (Tempo, 7 Mei 1994)

  1. Isi Berita/Tulisan
Kegiatan penyutingan berikutnya yang perlu diperhatikan adalah isi berita/tulisan. Proses penyutingan tidak hanya berpaku pada koreksi atau pembenaran salah ketik huruf, kata, tanda baca atau ejaan. Tetapi proses koreksi, pembenaran, penghalusan bahasa, keragaman kosa kata, diksi, struktur dan sistematika tulisan sehingga mudah dan enak dibaca oleh masyarakat. Terkait topik ini, Wahyu Wibowo (2002) memberikan langkah jitu agar tulisan kita makin hidup dan enak dibaca.

Beberapa langkah jitu tersebut misalnya, bacalah keseluruhan tulisan, lalu lihatlah relasi kalimatnya. Membaca keseluruhan tulisan untuk melihat rangkaian kalimat dalam posisinya sebagai pembentuk kalimat. Prinsip keindahan tulisan menurut Wahyu harus mengandung kesatuan dan keutuhan. Menimbang segala sesuatunya secara obyektif, matang dan logis. Selain itu tulisan harus mengandung satu pikiran utama yang jelas dan mengandung prinsip perkembangan, pemilihan kata yang baik, ejaan yang santun dan kalimat yang jelas.

Pemilihan kata dan kalimat menjadi sorotan utama si penyunting. Pasalnya penyutingan tulisan jurnalistik memiliki aspek kebahasanaan yang berbeda. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Namun demikian, bahasa jurnalistik tidak mengabaikan bahasa baku yang sudah ditetapkan. Pengarang Amerika Ernest Hemingway, pemenang Nobel dan Pulitzer (Rosihan, 2004) memberikan rambu-rambu dalam menulis jurnalistik, yaitu :
a. Gunakan kalimat-kalimat pendek
b. Gunakan bahasa yang mudah dipahami orang.
c. Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya.
d. Gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
e. Hindari pemakaian kalimat pasir, gunakan kalimat aktif.
f. Pilihlah pemakaian kata yang kuat dan padat.
g. Gunakan bahasa positif, bukan negatif.

Selain rambu-rambu di atas dalam melakukan penulisan, juga perlu dipehatikan dalam proses penyutingan sisi bahasanya, antara lain ejaan, singkatan, tanda baca, pilihan kata (kosa kata dan diksi), keefektifan kalimat dan  keterpaduan paragrap. Dari sisi ejaan maka yang perlu diperhatikan seperti penulisan huruf, penulisan kata, penulisan angka  dan lambing bilangan, lalu penggunaan tanda baca dan penulisan usur serapan. Sedangkan untuk keefektifan kalimat harus meliputi kelogisan ketunggalan makna, kebakuan kata, keefisienan dan kesesuaian pada kaidah tata tulis.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penyutingan adalah :
1.    Baca seluruh tulisan dari awal sampai akhir untuk memilah topik, tema, alur dan kesalahan tulisan, ejaan dan tanda baca.
2.    Topik yang berserakan di setiap paragraf harus dikelompokkan (kategorisasi) kemudian dijadikan satu alur yang sama.
3.    Jika ada istilah, akronim atau singkatan maka uraikan secara jelas maksud dan makna tulisan tersebut.
4.    Gunakan kata penunjuk ini dan itu untuk merunjuk kalimat sebelumnya. Atau memakai kata ganti ia, dia, -nya atau mereka, untuk merujuk pada seseorang yang telah disebutkan sebelumnya.
5.    Memilih kata sambung (konjungsi) sebagai alat penghubung intrakalimat dan antarkalimat. Fungsinya selain untuk mempertegas, juga untuk mempermadukan makna.
6.    Jika diperlukan pakailah pengulangan kata untuk menekankan atau menonjolkan gagasan utama dalam kalimat. Contohnya, Jawa Barat Kahiji. Jawa Barat berubah. Jawa Barat berliterasi.
7.    Penggunaan sinonim atau sebutan lain sebagai penghubung kalimat. Misalnya, Gubernur Jawa Barat sangat mendukung gerakan literasi di wilayahnya. Putera asli Sukabumi ini memperintahkan Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk mencetak penggerak literasi di daerah-daerah.
8.    Menghubungkan kalimat satu dengan lainnya dengan cara membangun kesamaan topik. Contohnya, ....menanggulangi banjir. ....mengatasi bencana alam tersebut.
9.    Memolototi baris demi baris mengedit ejaan, tanda baca, mengutip pendapat langsung dan tidak langsung serta menulis nama nara sumber.
10.  Hindari penggunaan kata-kata klise dan atau yang sering diulang-ulang.
11.  Padatkan panjang tulisan sesuai data dan fakta dalam isi berita/tulisan. Panjang tulisan tidak lebih dari 5-10 paragraf. Jika tetap panjang dan menarik, maka bahan tulisan displit (dipisah) dalam berita/tulisan terpisah dengan judul yang berbeda namun topiknya sama.

Panjang tulisan karya jurnalistik di media massa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembatasan ini terasa perlu karena selain menekan jumlah biaya produksi percetakan atau rating, juga diperlukan menyusul kesibukan pembaca dalam membaca media massa. Panjang tulisan berita jurnalistik sedikitnya  1 paragraf dan paling banyak 10 paragraf, atau menyesuaikan data dan fakta yang menarik. Kemudian jumlah baris setiap paragraf tidak lebih dari lima baris. Jika tetap terlalu panjang, jumlah baris “dipaksakan” untuk diseplit atau dipisah dalam paragraf berikutnya.

Harus diakui memang untuk menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas tidak hanya bergantung pada kemampuan editing. Tetapi diawali melalui proses menemukan gagasan, mengumpulkan bahan, data, fakta dan informasi, gaya penulisan dan terakhir proses penyutingn. Hal tidak mungkin proses akhir penyutingan akan berakhir bagus tanpa data, fakta dan gaya bahasa yang memadai dalam tulisan tersebut.

*) Penulis adalah tim Dewan Redaksi Website Literasi Jawa Barat



__________________
Sumber Referensi :  
Ashadi Siregar dkk, Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa, LP3Y-Kanisius, Yogyakarta, 2002.  
Bambang Bujono dan Toriq Hadad, ed., Seandainya Saya Wartawan Tempo, Midas Surya Grafindo, Jakarta, 1996.
Naning Pranoto, Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang, Primamedia Pusaka, Jakarta,2004.
Rosihan Anwar, Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi, Media Abadi, Jakarta, Cet. 5, 2004.
Umar Nurzain, Penulisan Feature, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993.
Wahyu Wibowo, 6 Langkah Jitu agar Tulisan Anda Makin Hidup dan Enak Dibaca, Gramedia Pusaka Utama, Jakarta, 2002.
Cara Menulis Judul Berita yang Baik dan Benar, http://www.romelteamedia.com/2015/01/cara-menulis-judul-berita-baik-benar.html,