SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Oktober 28, 2015

BIASA MENCURI, LAMA-LAMA KORUPSI

Oleh :
 D E N Y   R O C H M A N
Guru SMP Negeri 4 Kota Cirebon


Pernahkah kamu tahu ada ungkapan bahwa jika merokok itu pintu masuk mencicipi minuman keras, narkoba dan psikotropika (obat-obatan terlarang). Kalau pacaran itu jalan menuju pergaulan bebas berpotensi mengarah pergaulan sex bebas (free sex). Nah, mereka yang punya kebiasaan mencuri lama-lama bisa korupsi. Yah, karena korupsi sama dengan mengambil hak orang lain baik langsung maupun tidak, baik dengan cara paksa maupun secara halus. Jika sejak usia sekolah kalian sudah terbiasa mengambil barang yang bukan haknya di lingkungan sekitarnya, maka dewasa kelak akan terbiasa dengan korupsi.

Coba kita lihat deh kasus pencurian di sekitar kita. Pelakunya tidak saja orang tua dewasa, tetapi juga banyak dari kalangan remaja dan anak-anak. Malahan  kasus kriminal tersebut banyak terjadi di sekolah-sekolah. Beragam jenis barang yang menjadi sasaran, seperti uang, handphone, laptop, buku teks, buku LKS (Lembar Kerja Siswa), alat tulis, tas, sepatu sampai alat-alat kebersihan dan pakaian ibadah. Biasanya semakin tinggi nilai sebuah barang, baik gengsi maupun harga jualnya, maka semakin sering menjadi target pencurian.

Bagaimana cara mereka mencuri barang tersebut? Beragam modus yang siswa nakal lakukan dalam melancarkan aksinya. Ada yang berpura-pura pinjam barangnya, kemudian berpindah-pindah tangan lalu hilang. Kasus lain secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam mengambil barang temannya di dalam tas yang ditinggal di kelas karena pelajaran di luar kelas.  Bahkan beberapa siswa ada yang suka ngutil di kantin sekolah atau makan minum tidak bayar. Ditemui juga ada siswa yang meminta paksa (malak) kepada siswa lainnya dalam bentuk uang.

Potret buram kelakuan buruk anak sekolah tersebut memang tidak bisa dibiarkan. Selain bertentangan dengan peraturan baik norma agama maupun hokum Negara, juga akan berdampak pada kehancuran keluarga, masyarakat bahkan negara. Bisa dibayangkan oleh kalian, jika pendudukan sebuah negeri hobi mencuri mau jadi apa negara tersebut? Pemandangan sehari-hari dalam kehidupan akan diwarnai keributan, kekerasan dan bisa jadi pembunuhan. Tentu gambaran masyarakat yang tidak pernah diinginkan oleh kita semua.

GAYA HIDUP
Maraknya kasus pencurian di kalangan siswa diduga terkait dengan gaya hidup mewah (hedonisme). Hidup dalam serba kecukupan bahkan berlebih apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Memiliki baju yang bagus, punya motor atau mungkin mobil, handphone berkelas (smartphone), duit banyak, hidup enjoy tanpa beban dan pergaulan ala anak gaul dan modern. Bagi sebagian remaja, uang adalah sumber kebahagiaan. Dengan punya banyak duit mereka bisa memiliki keinginan yang ia perlukan agar status social mereka sederajat dengan teman-teman sekelompoknya.

Sementara itu orangtua di rumah kondisi ekonominya belum tentu hidup dalam kecukupan materi. Sekalipun orangtua kalian memiliki harta lebih namun tetap saja memberikan uang jajan sesuai takaran anak sekolah.  Cukup untuk jajan dan ongkos naik angkutan umum. Diantara keterbatasan uang, ditengah tuntutan gaya hidup glamour, remaja labil kehilangan akal sehatnya. Keimanan yang dangkal membuat mereka mengambil jalan pintas agar dirinya tetap eksis dan narsis dalam pergaulan dunianya. Bekerja sambil belajar bukan menjadi pilihan terbaik bagi mereka karena belum cukup umur atau bisa merusak gengsi mereka didepan teman-temannya.

Gaya hidup remaja masa kini banyak dipengaruhi oleh media massa khususnya televisi. Banyak tayangan hiburan, entah itu sinetron, film, reality show, panggung hiburan menyuguhkan gaya hidup pemborosan, kemewahan, bahkan percintaan dan kekerasan. Tokoh remaja yang sering ditampilkan adalah sosok remaja ganteng atau cantik dengan pakaian rapih, bersih dan berkelas. Kehidupan mereka wara wiri naik turun motor atau mobil mewah dengan menenteng gadget canggih. Tempat-tempat tongkrongannya pilihan bernuansa modern dan gaul bersama pacar-pacarnya.  Mereka terjebak dalam kehidupan khayalan alur sinteron yang ditampilkan tanpa melihat kenyataan hidup sesungguhnya.

POLA PERGAULAN
Hidup di era globalisasi lintas negara menuntut pola pergaulan anak remaja harus ekstra hati-hati. Efek globalisasi tidak hanya akses informasi dan komunikasi yang cepat dan bebas, tetapi juga mempengaruhi tradisi, budaya bahkan agama masyarakat setempat. Repotnya, jika satu budaya bangsa satu dengan bangsa lain berbeda atau malah berlawanan itu akan berdampak pada benturan dan pertentangan. Kebiasaan minuman alcohol, merokok atau pacaran misalnya, bagi bangsa Eropa pada umumnya hal itu sudah biasa. Namun tidak demikian bagi bangsa Indonesia hal-hal tersebut masih dibatasi oleh norma dan agama.

Ada beberapa cara yang bisa dijadikan pola pendidikan bagi anak. Pertama, sejak kecil mestinya kalian sudah mengenal ilmu dan kebiasaan keagamaan. Agama merupakan dasar pembentukan karakter kamu agar dewasa kelak akan sadar akan pentingnya agama bagi kehidupan. Agama yang tidak saja dipahami dalam bentuk ibadah ritual seperti  sholat, puasa, zakat dan haji menurut ajaran Islam. Tetapi agama dalam arti menjadi pedoman hidup manusia dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, berbuat baik kepada sesama manusia, kepada alam dan kepada Tuhan. Mustahil sepintar apapun manusia jika tidak dilandasi keimanan agama maka ia akan mudah tergelincir. Ingat, selain manusia ada syetan yang selalu menggoda manusia untuk sesat dan menyesatkan.

Pendidikan karakter, agama dan pemahaman hukum sejak kecil dan pada masa sekolah akan membentuk kesadaran anak untuk hidup dalam ketertiban aturan dimana pun. Ia akan tahu jika melanggar aturan aka nada sanksi yang memberatkan mereka sehingga berujung kepada ketakutan tidak melakukan. Dengan ilmu dan pengetahuan yang dipahaminya perlahan akal, jiwa dan kepribadian anak akan terpola sendirinya seiring dengan waktu. Jika tidak terpola dengan pendidikan moral yang ada, dalam perkembangan jiwa dan raganya anak akan sulit membedakan hal buruk dan baik bagi diri dan lingkungannya.

Kedua, pilihlah teman yang dianggap baik oleh banyak orang, baik yang ada di sekitar rumah kamu maupun di sekolah dan tempat umum lainnya. Karena teman yang baik akan membawa kamu menjadi anak yang baik. Temannya penjual minyak wangi maka kita akan wangi, sebaliknya jika temannya tukang oli maka kita akan kotor terkena oli. Untuk dapat teman baik tidak sulit-sulit amat. Ikuti saja oleh kalian kegiatan-kegiatan positif yang ada di sekolah seperti kegiatan ekstrakurikuler atau keagamaan di sekolah. Dalam bersekolah pun kalian harus pandai-pandai memilihnya jangan asal sekolah karena hal itu akan menentukan tipe temen kamu seperti apa.

Ketiga, habiskan waktu kamu sehari-hari untuk kegiatan positif. Tetapkan dan taati jadwal kegiatan setiap hari kamu yang dibuat, dari pagi hingga malam hari. Jangan biarkan waktu kamu habis untuk hal-hal yang tidak jelas membuat kamu lalai dan membuang waktu. Misalnya waktunya habis menonton televisi, jalan-jalan, nongkrong, ngenet, game dan sebagainya. Batasi semua kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan belajar secara cermat. Sebagai pelajar tugas utama kalian adalah belajar.

Keempat, biasanya selalu hidup sehat, hemat dan apa adanya, tidak mengada-ada. Tidak tergoda dengan tren di kalangan remaja, entah itu fashion, gadget, pola pikir, atau tren yang bisa menghabiskan uang dan waktu kamu. Pahami jika hidup ini hanya sementara dan simple. Kita berbaju untuk menutup aurat dan kepantasan. Kita makan untuk bertahan hidup, agar tidak mati kelaparan. Kita memakai teknologi agar untuk memudahkan aktifitas sesuai kebutuhan. Kita berbuat baik untuk kebaikan kita agar kita tidak dibenci, dimusuhi atau dihabisi oleh orang lain. Sesungguhnya tidak rugi menjadi orang baik karena akan dicintai banyak orang, oleh alam, oleh malaikat dan oleh Tuhan.

Apabila anak remaja paling tidak melakukan empat hal di atas, maka sebagai generasi penerus bangsa ia akan tumbuh menjadi manusia yang hebat. Manusia yang mampu mengontrol emosinya, jalan pikirannya dan pergaulannya. Bebas korupsi, hidup jujur teratur tidak melawan hokum. Manusia yang tidak merugikan dirinya, keluarga, masyarakatnya dan juga bangsa dan negaranya. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi banyak orang dan orang lain merasa tidak terancam dengan keberadaan kita. Semoga. (*)

*) Tulisan ini syarat pemilihan peserta Workshop Teachersupercamp Pendidikan Anrti Korupsi KPK 
di Lembang Bandung awal Nopember 2015.