SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Juni 05, 2016

MEMBACA SAMPAI MATI

RESENSI BUKU
Judul Buku : Mereka Besar Karena Membaca
Penulis        ; Suherman, M.Si
Penerbit      : Literate Publishing Bandung
Halaman     : xii + 278
Harga          : Rp. 50.000,-

Buku ini buku hebat. Hebat judulnya yakni “Mereka Besar karena Membaca”. Hebat topiknya karena mengingat masyarakat akan pentingnya membaca. Hebat penulisnya karena Suherman adalah manusia pilihan Jawa Barat yang melejit terpilih sebagai pustakawan terbaik se- Asia Tenggara. Hebat isinya karena mengulas tokoh-tokoh besar yang menggucang dunia dengan leadershipnya. 


Tidak hanya tokoh dalam negeri yang diulas dalam buku Literate Publishing Bandung ini. Tetapi tokoh-tokoh dunia dalam latar belakang politik yang berbeda di kupas habis. Nama-nama tokoh dalam negeri misalnya Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, Gus Dur dan Ajip Rosidi. Sementara tokoh dunia yang besar karena gila membaca antara lain Karl Marx, Stalin, Mao, Hitler, Gandhi, Hasan Al Bana, Malcolm X, Khomeini. Ada juga Che dan Fidel, Jobs dan Barack Obama, Presiden Amerika.

Buku ini saya peroleh langsung dari sang penulis saat penutupan Workshop guru penggerak literasi se-Jawa Barat yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat di Lembang Bandung, 1-3 Juni 2016. Kendati buku terbitan tahun 2012 namun spirit pembangun jiwanya masih terus relevan, sejalan masih lesunya semangat budaya literasi negeri ini.

Suherman, sang penulis buku menilai, para tokoh nasional dan dunia itu mereka dibesarkan berkat hobi membacanya. Dengan membaca, Karl Marx menjadi tokoh komunis mendunia dengan bukunya berjudul “Das Kapital”. Kecintaannya terhadap ilmu tidak membuat dirinya kecil hati hidup dalam kemiskinan. Namun keterbatasan ekonomi keluarganya tidak menyurutkan Marx untuk terus belajar, belajar dan belajar hingga dikenal sebagai ilmuwan ilmu sosial. 

Begitu juga dengan Stalin, Mao dan Hitler, dibalik sikap otoriter dan tiran selama menjadi pemimpin negaranya, mereka tumbuh menjadi manusia yang kuat, visioner dan idealis dalam perspektifnya berkat tradisi kuat membaca. Bahkan politisi Amerika Serikat Malcolm X, dari seorang anak miskin, berandal dan criminal ia berubah menjadi manusia yang cerdas dan terkenal sejak sering membaca. Hobi baca warga keturunan negro ini mulai meningkat saat berada di penjara. Kenakalan masa remajanya membuat Malcolm harus berurusan dengan hukum. 

Tidak hanya Malcolm X yang merasakan nikmatnya membaca di penjara, sebelum hidupnya harus terhenti oleh timah panas lawan politiknya saat berpidato. Beberapa tokoh lainnya, seperti Hasan Al Bana, Soekarno, Tan Malaka, dan tokoh lainnya saat di sel malah cukup banyak waktu untuk mencerdaskan diri dengan membaca dan menulis. Melalui penjara, ada orang yang menemukan jati dirinya. Ada juga semakin meningkatkan kemampuan intelektualnya sampai kematiannya pun, seperti dialami Mao.

Mao,  pemimpin China yang meregang nyawanya sambil membaca. Bahkan Tan Malaka pernah menulis: “Penjara, pengasingan, pembuangan, dan penyakit akut tak pernah akan mampu membuat aku berhenti menulis. Hanya kematian yang bisa menghentikan aku menulis.”

Buku setebal 390 halaman tersebut menegaskan kepada kita semua : (1) Dengan membaca, akan merubah pola pikir, kepribadian dan sikap seseorang sehingga menjadi orang yang berfikir besar dan luas; (2) Budaya literasi, menulis dan membaca tumbuh dan berkembang dari kebiasaan keluarga yang diwariskan kepada anak-anaknya; (3) Kemampuan akal dalam belajar, harus diimbangi dengan ketrampilan spiritualnya. Banyak tokoh komunis, sosialis yang cerdas namun berwatak tirani, otoriter dalam kepemimpinannya.Berbalik dengan tokoh yang berbasis keagamaan yang kuat ia tumbuh menjadi pemimpin yang humanis.

(4) Penderitaan yang dialami seseorang bukan menjadi alasan untuk tidak bisa pintar, bahkan harusnya menjadi motivasi untuk belajar dan berkembang. Jangan menyalahkan takdir kita dilahirkan miskin, tetapi sesali mengapa kita hidup tidak bisa lepas dari kemiskinan. Justeru kegilaan membaca membuat banyak tokoh dunia yang lahir dalam kemiskinan namun bisa menjadi orang besar.

“Buku putih” Suherman ini sangat layak untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia yang semakin malas mengenal buku. Padahal banyak negara maju berangkat dari budaya literasi yang baik, dimana budaya membaca masyarakatnya sangat bagus. Sebagai contoh negara Jepang, China, India atau peradaban Yunani, Mesir dan sebagainya. Berbeda dengan negara kita budaya literasi dilemahkan dengan budaya lisan dan nonton. Ataukah ini yang disindir oleh Ajip Rosidi, jika pemerintah tak menganggap penting masyarakat gemar membaca dan membiarkannya bodoh.

Koreksi buku ini terletak pada ketikan yang dijumpai salah di banyak halaman. Judul bukunya hanya membidik kemampuan membaca, padahal para tokoh menjadi besar tidak melulu semuanya berkat membaca tetapi juga disertai menulis. Karena penulis yang baik biasanya karena memiliki kebiasaan membaca yang baik. (denyrochman)