SELAMAT DATANG DI WEBLOG DENY ROCHMAN. MARI KITA BANGUN PERADABAN INI DENGAN CINTA DAMAI UNTUK MASA DEPAN LEBIH BAIK

Maret 16, 2016

JIMAT KEKUATAN TAPAK SUCI

Oleh :
Deny Rochman, S.Sos.,M.Pd.I.,K.Ua

Istilah jimat selalu identik dengan sesuatu yang memiliki dan memberikan kekuatan. Tapak Suci sebagai ilmu beladiri Indonesia berada di bawah naungan Muhammadiyah memiliki dua kekuatan jimat. Jimat tersebut adalah kekuatan iman  dan akhlak sebagai moto perguruan pencak silat asal Yogyakarta tersebut. Secara lengkap Tapak Suci menuliskan, “Dengan iman dan akhlah saya menjadi kuat. Tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.”

Bagi banyak orang yang mengerti tentang hakekat iman dan akhlak dalam kehidupan ini akan dibuat heran terhadap Tapak Suci yang memposisikan keduanya menjadi istimewa dalam motto beladirinya. Tidak sedikit pada perguruan lain, sumber kekuatan perguruan terletak pada sesuatu yang fisik dan keduniaan.  Mengapa iman dan akhlak menjadi sesuatu istimewa bagi perguruan beladiri Tapak Suci?

MAKNA IMAN
Iman menurut bahasa Iman berarti “pembenaran hati”. Sedangkan menurut istilah, Iman membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Secara terminologi iman adalah pengucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, pengamalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan melaksanaan ketaatan dan berkurang dengan melaksanakan kemaksiatan. 

Perwujudan iman harus dilakukan secara seimbang dan berkelanjutan. Tidak saja diyakini dan dibenarkan dalam hati terhadap kesaksian Allah dan Rosul-Nya melalui kalimat syahadat, tetapi juga harus diucapkan sebagai bentuk ikrar kepada masyarakat. Kesaksian publik diperlukan sebagai pengakuan banyak orang terhadap keimanan seseorang yang kemudian keimanan tersebut harus terlihat dalam perbuatan kita.

Sebagai contoh dalam hidup berumah tangga, misalnya, rasa cinta dan kasih sayang harus ditunjukan melalui keyakinan dalam hati, diucapkan dan dibuktikan kepada pasangan hidup kita. Sangat diragukan jika seorang suami mengaku dia sayang kepada keluarganya, namun dia tidak mau bekerja mencari nafkah hidup bagi keluarganya.

Keimanan seseorang harus dipupuk melalui pemahaman dan keyakinan terhadap rukun iman. Iman kepada Allah Swt, kepada malaikat-malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Rosul-Rosul Allah, kepada hari akhir dan iman kepada Qada dan Qadar. Yang menarik, beragam iman kepada kitab-kitab dan rosul-rosul Allah menegaskan kepada manusia agar kita jangan melupakan sejarah masa lalu sekalipun kita hidup dengan kitab dan rosul yang berbeda.

Allah Swt berfirman dalam Surat An Nisa Ayat 136 : “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al Qur'an) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.”

HAKEKAT AKHLAK
Menurut Imam Al Ghazali adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan, tanpa telalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang lama. Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa yang namanya akhlak itu adalah dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan, dan timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir-pikir terlebih dahulu (otomatis).

Dalam pandangan agama Islam, akhlak memiliki tempat yang tinggi dan kedudukan yang terhormat. Pujian tertinggi al-Qur`an untuk Rasulullah Saw. adalah: ”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. al-Qalam/68: 4).  Dalam hadist Nabi Muhammad Saw  disebutkan : Sesunggguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. al-Bukhârî).

Pada bagian lain, Allah Swt berfirman : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13).

Makna taqwa adalah salah satu hal yg sangat penting yang meliputi tiga aspek dalam aktifitas kehidupan sehari-hari yaitu (a) moral, (b) karakter, (c) tingkah laku, dan (d) ekonominya. Kebagusan akhlak inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya seperti binatang, tumbuhan bahkan syetan, iblis dan jin.

DUA KORELASI
Buah manis dari kekuatan keimanan tersebut adalah lahirnya akhlak mulia. Semakin kuat iman seseorang maka semakin bagus akhlak yang dimilikinya. Dengan kekuatan iman, maka seorang muslim tidak memiliki rasa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah Swt. “La ilaha illallah” tiada tuhan selain Allah. Kalima thoyibah tersebut merupakan cermin puncak kekuatan iman seorang muslim, seperti yang dituliskan dalam sebuah hadist Nabi Saw :

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan LÂ ILÂHA ILLALLÂH, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” (H.R Muslim).

Riwayat lain menegaskan betapa istimewanya akhlak mulia yang harus dimiliki manusia. Dari Aisyah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Barsabda: “Sesungguhnya orang mukmin dengan budi pekerti yang baik, dapat mengejar  derajat orang yang selalu berpuasa dan selalu salat malam.:  (H.R. Abu Daud)[1][

Iman dan akhlak bagaikan dua sisi uang logam, dwi tunggal. Keduanya menyatu saling melengkapi dan berhubungan. Dengan keimanan seorang muslim memiliki kepatuhan kepada Sang Khalik secara totalitas. Tiada rasa takut terhadap makhluk lainnya jika kita merasa benar. Efeknya aura akhlak mulia akan terpancar dalam kehidupan sehari-hari sehingga tetap berlaku sopan dan santun. Iman dan akhlak membangun jiwa manusia dalam hablum Habluminallah (hubungan dengan Allah Swt) dan Habluminannas (hubungan sesama manusia).

Kekuatan iman dan akhlak menjadi “jimat” bagi Tapak Suci yang tertuang dalam ikrar siswa Tapak Suci Putera Muhammadiyah :
  1. Setia menjalankan ibadah dengan ikhlas karena Allah semata
  2. Mengabdi kepada Allah, berbakti kepada bangsa dan negara, serta membela keadilan dan kebenaran.
  3. Menjauhkan diri dari segala perangai dan tingkah laku yang tercela.
  4. Mencari perdamaian dan kasih sayang serta menjauhi perselisihan dan permusuhan.
  5. Patuh dan taat kepada peraturan-peraturan serta percaya kepada kebijaksanaan pimpinan.
  6. Dengan IMAN dan AKHLAQ saya menjadi kuat, tanpa IMAN dan AKHLAQ saya menjadi lemah.
Laa hawla wa laa kuwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adzhiim


Cirebon, 7 Maret 2016
 _________________________

*) Makalah Al Islam disampaikan dalam Ujian Kenaikan Tingkat (UKT)
siswa Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kab. Cirebon
di SMK Farmasi Muhammadiyah 1 Cirebon
pada Selasa-Rabu,  8-9 Maret 2016.

**) Penulis adalah Kader Utama
Pimda 168 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kab. Cirebon