Oleh :
Deny Rochman, S.Sos.,M.Pd

Ada
kerinduan yang menghampiri. Rasa kangen yang hinggap di hati. Berjumpa
dengan teman-teman lama yang sudah tidak bersua puluhan tahun. Teman
dari sekolah. Teman sewaktu kuliah. Teman-teman ketika masa kecil di
kampung. Teman ketika di organisasi. Reuni menjadi sebuah pilihan untuk
merajut kembali tali silaturahmi yang mulai renggang. Re bermakna
kembali, uni diartikan bergabung/berkumpul.
Dibalik
kerinduan, namun ada penghalang. Problem yang sering muncul adalah rasa
percaya diri. Percaya diri bertemu kembali dengan teman-teman yang
sudah lama tak berjumpa. Kesuksesan menjadi tolok ukur tingkat percaya
diri seseorang untuk hadir pada acara reuni. Kehadiran dalam reuni
dilihat kedalaman nostalgia yang ditoreh masa itu. Jika kedua indikator
itu tidak muncul, maka dipastikan yang bersangkutan tidak akan hadir
dalam acara reuni.
Yah, tidak dipungkiri setiap ajang
reuni selalu muncul fenomena adu gengsi. Simbol-simbol kesuksesan
ditampilkan: mobil, mode pakaian, jadget, performen diri hingga
cerita-cerita kesuksesan keluarga masing-masing. Ajang nostalgia berubah
menjadi perang gengsi, prestise dan pamer kekayaan.