Sekitar 70 tahun lebih hidupnya ia jalani dengan penuh suka duka. Sabar dan dibuat enjoy menjadi rumus hidupnya. Saking enjoynya tak ada makanan minuman yang ia pantang. Asal halal semuanya dinikmati dengan senang. Termasuk kebiasaan berolahraga sejak usia muda.
Gaya hidupnya yang enjoy membuat hidupnya di usia senja harus akrab dengan penyakit. Penyakit yang perlahan namun pasti menggerogoti daya tahan tubuhnya. Organ pangkreasnya tak mampu bekerja dengan baik mengubah asupan menjadi energi. Ia lemah tak berdaya menopang tubuhnya yang lelah 70 tahun mengurus 9 anak dan 1 suami. Penyakit diabet bersarang dalam tubuhnya.
Dia adalah ibu Sumiah, anak kedua dan bungsu pasangan Karsan dan Suratmi yang lahir pada 13 Mei 1947. Biasa akrab dipanggil ibu atau ceu Mioh. Kedua orangtuanya sudah lama tiada. Termasuk kakak pertamanya Kahar yang sudah wafat lebih awal. Wafat usia pensiun sebagai prajurit Kopasus Cijantung dan menjadi security PLN.
Pernikahan Sumiah dengan pria idamannya, Iing Sanusin, berlangsung 28 Oktober 1966 di Desa Lemahabang, yang kini dimekarkan menjadi Desa Lemahabang Kulon. Ibu Sumiah menikah usia 19 tahun sementara Pak Iing usia 24 tahun. Buah kasih sayang keduanya lahir 11 anak: 9 anak hidup, 2 anak keguguran (kluron).
Sembilan anak tumbuh dan berkembang dengan normal dan sehat. Yang unik, 9 anak itu 8 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka adalah Dedi Rohayadi (9-8-1967), Dadang Mulyana (2-9-19 Diding Syarifudin (29 Juli 1970), Dodi Setiawan (20 Mei 1974), Deny Rochman (21-1-1976), Didi Mulyadi (6-3-1977), Dede Rosidin (18-4-1979), Dudi Darmanto (18-11-1983) dan Dewi Oktaviani (31-10-1986).
Semua anaknya sudah berkeluarga. Ada berjodoh dengan orang Madiun, Ngawi, Purwokerto, Kuningab, Bogor hingga di dalam daerah Cirebon sendiri. Berkat pernikahan anak-anaknya Bu Mioh sudah jadi ennek dengan16 cucu yang sehat, lucu dan pintar.
Selama 70 tahun, Bu Mioh bersama suaminya bekerja keras mengurus anak-anaknya yang sangat banyak. Selama proses pertumbuhan dan pendidikan keluarga Pak Iing hanya mengandalkan penghasilan sebagai karyawan pabrik gula PG Karangsuwung hingga pensiun dan wafat pada 21 Januari 2004. Persis hari ulang tahun salah satu anaknya, Deny Rochman.
Untuk membantu dapur tetap ngebul, Bu Mioh bekerja wiraswasta. Mulai jualan kreditan barang-barang, arisan sampai dengan jualan nasi rames. Sementara suaminya sepulang kerja, menyibukan diri menerima servis barang elektronik hingga larut malam. Semuanya dilakukan untuk membantu keperluan sehari-hari keluarga. Memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.
Alhamdulillah rejeki yang berkah membawa anak-anak dan keluarga hidup layak. Tak kelaparan dari makanan, tak pernah kedinginan karena tidur di rumah. Kini anaknya bertebaran di muka bumi Allah. Ada di Depok, Bogor, Bandung, Sumedang, Kota Cirebon dan di Sindanglaut sekitarnya. Dua anak diantaranya, Diding dan Dudi, bekerja mewarisi ayahnya di pabrik gula.
Kini menghabiskan sisa waktunya hidup di dunia Bu Mioh lebih betah tinggal di rumah pusakanya. Rumah waris yang ia beli dari kakek isterinya, Abah Tarya - Ma Tewi. Rumah yang dibeli Rp300 ribu pada tahun 1980. Rumah berusia 38 tahun itu kini sudah semakin rapuh. Setiap kali hujan sering bocor. Beruntung anak keenamnya Maret 2018 awal melakukan renovasi total bagian belakang.
Sebelumnya keluarga Pak Iing kontrak rumah pamannya di blok Kawedanan Sindanglaut. Rumah yang dikenal angker hingga kini. Dua rumah yang pernah di kontrak lainnya di daerah Stasiun Kereta Sindanglaut dan rumah bu Nani di blok kamer. Banyaknya rumah yang dikontrak membuat 9 anaknya lahir di banyak rumah.
Diakhir hidupnya Bu Mioh berharap agar anak-anaknya diberikan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Selalu mendoakan kesehatan kebahagiaan dirinya. Termasuk berdoa untuk kebahagiaan suaminya yang lama tiada. Bu Mioh kini dalam kepasrahan di usia tuanya. Semoga anak-anaknya yang sudah diasuh dan didik sejak dalam kandung bisa memperhatikan hidupnya yang kian payah seorang diri di rumah tua. (*)